berkah

RAMADHAN BULAN BERKAH
Ikhwati wa akhowati fillaah, Salah satu sifat Allah SWT adalah Ia memiliki irodah (kehendak), sebagaimana firmanNya : “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).” (QS Al Qoshosh [28]:68). Allah memilih sesuatu yang dikehendakiNya. Allah memilih tempat yang dikehendakiNya. Allah memilih manusia yang dikehendakiNya, pilihanNya sendiri ada yang menjadi Rasul, pemimpin negara, cendekia, dsb. Allah memilih gua Hiro’ yang dikehendakiNya sebagai tempat pertemuan Rasul dan Malaikat Jibril. Allah memilih Mekkah yang dikehendakiNya sebagai kiblat kaum Muslimin dan memilih pula kota Madinah sebagai basis pertahanan Rasulullah dalam menyebarkan risalah Ilahi.

Begitu pula halnya dengan bulan-bulan dalam setahun, Allah telah memilih Ramadhan sebagai bulan yang istimewa, yang namanya disebutkan dalam Al Qur-an. Firman Allah : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” QS Al Baqoroh [2]:185. Jika Allah berkehendak, tentu ada suatu maksud tertentu dibalik kehendakNya itu. Allah mengutus Rasulullah dengan satu maksud, untuk menyampaikan risalah-Nya.

Begitu halnya dengan bulan Ramadhan, sebab Allah tidak akan mengatakan Ramadhan sebagai bulan istimewa jika tidak ada sesuatu dibalik itu. Baginda Rasulullah SAW, ketika berada di penghujung bulan Sya’ban, selalu mengatakan kepada sahabatnya : “Telah datang padamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka sambutlah kedatangannya. Telah datang bulan shiyam membawa segala keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu.” (HR. Ath Thabrani) Dalam sabdanya yang lain : “Sesungguhnya telah datang padamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah memerintahkan berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu, dibukakan segala pintu Surga, dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu syetan-syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa yang tidak diberikan kebajikan malam itu, berarti telah diharamkan baginya segala rupa kebajikan.” (HR. An Nasai dan Al Baihaqi)

Jika kita menengok ke belakang, melihat sirah Rasulullah SAW kita akan melihat betapa banyaknya kejadian penting terjadi pada bulan Ramadhan, di antaranya :
1. Bulan diturunkannya Al Qur-an. Firman Allah : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS Al Baqarah [2]:185) Dalam tafsir Mafatihul Ghaib, berkenaan dengan ayat diatas, Ar Razi berkata : “Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan jalan menurunkan Al Qur-an. Karenanya, Allah SWT mengkhususkannya dengan satu ibadah yang sangat besar nilainya, yakni puasa (shaum). Shaum adalah satu senjata yang mengungkapkan tabir-tabir yang menghalangi kita manusia memandang nur Ilahi yang Maha Quddus. Al Qur-an adalah suatu kitab yang tiada bandingannya, pemisah yang haq dan bathil, berlaku sepanjang masa, dan menjadi pengikat seluruh ummat Islam di seluruh dunia.
2. Bulan diturunkannya kitab-kitab suci lainnya. Di bulan ini pula, Allah menurunkan kitab-kitabNya yang lain kepada para Rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits: “Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada 6 Ramadhan dan Injil diturunkan pada 13 Ramadhan sedangkan Al Qur-an diturunkan pada 24 Ramadhan.” (HR. Ahmad) Itulah keberkahan bulan Ramadhan, bulan turunnya ayat-ayat Qouliyyah, minhajul hayah bagi keberadaan manusia di muka bumi, penunjuk jalan bagi orang-orang yang mau mensucikan dirinya.
3. Bulan pilihan Allah bagi terjadinya perang Badr. Perang pertama yang dilakukan kaum Muslimin, dimana perang ini menjadi penentu kelangsungan perjuangan da’wah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Perang Badr dinamakan Allah dengan sebutan “yaumul furqon” (hari pembeda antara yang haq dan bathil), sebagaimana firmanNya : “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” QS Al Anfal [8]:41. Muhammad Qutb mengatakan dalam tafsirnya bahwa perang ini dari awal hingga akhirnya adalah rencana Allah SWT yang dilaksanakan dengan pimpinan dan bantuanNya. Dimana dalam jalannya pertempuran, Allah SWT memenangkan kaum Muslimin yang mempunyai personil dan persenjataan minim, ditambah kondisi fisik kaum Muslimin yang secara lahiriah lebih lemah karena sedang berpuasa, setelah menerima perintah yang baru beberapa saat diterimanya. Namun itu bukanlah hambatan untuk menang, karena kekuatan utama kaum Muslimin adalah kekuatan ruhiyyah mereka dengan keyakinan akan kebenaran janji Allah SWT. Peperangan ini membuahkan babakan baru dalam sistem gerakan Islam. Perang ini memperbaharui kondisi ummat Islam, setelah dengan sabar dan tabah menempuh tahapan-tahapan perjuangan da’wah. Lahir tatanan baru dalam kehidupan manusia, bagi penerapan hak-hak asasi serta sistem dan struktur baru bagi masyarakat dan negara.
4. Bulan yang dipilih bagi terbukanya kota Mekkah. Peristiwa “fathul makkah” terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan, sekitar 10000 kaum Muslim mendatangi Makkah dari segala penjuru. Pada saat itulah terjadi fenomena kemenangan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah manapun, dimana semua musuh, hingga para pemimpinnya menerima dan mengikuti agama lawan. Ini tidak terjadi melainkan dalam sejarah Islam. Kemenangan ini hakikatnya adalah kemenangan akidah, kalimat tauhid dan bukan kemenangan individual atau balas dendam.
5. Bulan yang dipilih Allah untuk Lailatul Qadar. Dijelaskan dalam firman Allah SWT : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS Al Qadr [97]:1-5)
6. Bulan yang dipilih untuk pelaksanaan puasa dan pemindahan qiblat. Firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. ” QS Al Baqarah [2] : 183. Bersamaan dengan turunnya ayat perintah berpuasa di bulan Ramadhan, pemindahan qiblat ummat Islam dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram inipun menjadi pembeda antara yang haq dan bathil, dimana pada saat sebelumnya orang Yahudi merasa lebih benar karena puasa mereka dan kiblat mereka diikuti kaum Muslimin. Namun dengan perintah itu, maka berbedalah kaum Muslimin dengan ahlul kitab. Berbeda pula kiblat Muslimin dengan mereka, serta puasa Muslimin dengan mereka. Kecongkakan merekapun berakhir dengan barokah bulan ini.

Ditulis dalam Tak Berkategori. Leave a Comment »

Ramadhan

1. MARHABAN YA RAMADHAN

Marhaban barasal dari kata rahb yang berarti luas atau lapang. Marhaban menggambarkan suasana penerimaan tetamu yang disambut dan diterima dengan lapang dada, dan penuh kegembiraan. Marhaban ya Ramadhan (selamat datang Ramadhan), mengandungi arti bahwa kita menyambut Ramadhan dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak dengan keluhan.

Rasulullah sendiri senantiasa menyambut gembira setiap datangnya Ramadhan. Dan berita gembira itu disampaikan pula kepada para sahabatnya seraya bersabda: “Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkatan. Allah telah memfardlukan atas kamu puasanya. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu surga dan dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh setan. Padanya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan” (Hr. Ahmad)

Marhaban Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah swt. Perjalanan menuju Allah swt itu dilukiskan oleh para ulama salaf sebagai perjalanan yang banyak ujian dan tentangan. Ada gunung yang harus didaki, itulah nafsu. Digunung itu ada lereng yang curam, belukar yang hebat, bahkan banyak perompak yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak dilanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan.

Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat yang indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya. Untuk sampai pada tujuan tentu diperlukankan bekal yang cukup. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan yang harus kita tabur didalam jiwa kita. Tekad yang keras dan membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarrus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama.

Ditulis dalam Tak Berkategori. Leave a Comment »

skripsi

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN
DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK
MIE INSTAN MEREK SEDAAP
(Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unmer Malang)
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan
dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
Program Studi : Manajemen
Disusun Oleh:
HERY KURNIAWAN
02.22.0028
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MERDEKA MALANG
2006
LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI
Nama : HERY KURNIAWAN
Nomor Pokok : 02.22.0028
Universitas : Merdeka Malang
Fakultas : Ekonomi
Program Studi : Manajemen
Judul : ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KONSUMEN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
PEMBELIAN PRODUK MIE INSTAN MEREK SEDAAP
(Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unmer
Malang)
Malang, November 2006
DISETUJUI DAN DITERIMA:
Ketua Program Studi, Dosen Pembimbing,
(Dra. ERNA SETIJANI, MM) (Dra, DIAH WIDIAWATI, MM)
Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Merdeka Malang
(Drs. MAXION SUMTAKY, M.Si.)
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KONSUMEN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
PEMBELIAN PRODUK MIE INSTAN MEREK SEDAAP
(Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unmer Malang)
Dipersiapkan dan disusun oleh:
HERY KURNIAWAN
02.22.0028
Telah dipertahankan di depan dewan penguji
Pada Tanggal 04 Agustus 2006
Susunan Dewan Penguji
Ketua Penguji Sekretaris Penguji
(Dra. DIAH WIDIAWATI, MM) (Drs. M. NATSIR, MM)
Anggota Penguji
(Drs. YARNEST, MM)
Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan
Untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
Malang, 2006
Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Merdeka Malang
Drs. MAXION SUMTAKY, M.Si.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
N a m a : HERY KURNIAWAN
Nomor Pokok : 02.22.0028
Universitas : Merdeka Malang
Fakultas : Ekonomi
Program studi : Manajemen
Tempat dan Tgl.Lahir : Banyuwangi,15 Maret 1984
Alamat : Padang Bulan RT. 07 RW. 02 Tegalrejo Tegalsari -
Banyuwangi
Nama Orang Tua (Bapak) : Suryono
(Ibu ) : Sugiarti
Riwayat Pendidikan :
1. Lulus Sekolah Dasar Negeri Tegalsari 4
Banyuwangi Tahun 1996
2. Lulus Sekolah Menengah Pertama PGRI Tegalsari
27 Banyuwangi Tahun 1999
3. Lulus Sekolah Menengah Umum Negeri Gambiran
1 Banyuwangi Tahun 2002
4. Terdaftar sebagai Mahasiswa Fakultas Ekonomi
Program Studi Manajemen Universitas Merdeka
Malang Tahun 2002
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan Puji dan Syukur kehadirat Allah Swt Sehingga
penulis dapat menyelesaikan penyusunan Skripsi ini dengan judul:
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN
DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK MIE
INSTAN MEREK SEDAP (Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi
Unmer Malang)
Penyusunan Skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagian
persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas
Ekonomi Jurusan Manajemen Universitas Merdeka Malang.
Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis
mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada:
1. Bapak Drs. MAXION SUMTAKY, M.Si., Selaku Dekan Fakultas
Ekonomi Universitas Merdeka Malang.
2. Ibu Dra. ERNA SETIJANI, MM, Selaku Ketua Program Studi Ekonomi
Manajemen Universitas Merdeka Malang.
3. Bapak Dra, DIAH WIDIAWATI, MM Selaku Dosen pembimbing yang
telah banyak memberi pengarahan dan bimbingan serta petunjukpetunjuk
yang berguna kepada penulis sehingga penulisan Skripsi ini
dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
4. Bapak dan Ibu Dosen yang telah mengajar dan membimbing penulis
dari mulai menjadi mahasiswa Ekonomi Manajemen Universitas
Merdeka Malang
5. Kedua Orang Tuaku tercinta terima kasih atas do’a, cinta, dan kasih
sayang yang tiada henti-hentinya, serta dukungan moril maupun
materiil dalam penyusunan skripsi ini.
6. Dan yang terakhir buat semua temen-temenku yang aku kenal dan
yang pernah membantu aku terimakasih banyak.
Akhirnya atas bantuan, bimbingan dan pengarahan serta dorongan
yang diberikan semoga mendapatkan balasan dari Tuhan yang Maha Esa.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan Skripsi ini,
dan penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan Skripsi ini.
Demikianlah Skripsi ini disusun dan semoga apa yang penulis
sajikan dapat berguna dan bermanfaat bagi para pembaca untuk
menambah bekal ilmu pengetahuan.
Malang, Juli 2006
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………………
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI……………………………………………….
SURAT KETERANGAN PENELITIAN………………………………………………
DAFTAR RIWAYAT HIDUP……………………………………………………………..
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………….
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………..
DAFTAR TABEL…………………………………………………………………………….
DAFTAR GAMBAR………………………………………………………………………..
DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………………………..
ABSTRAKSI ………………………………………………………………………………..
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Penelitian……………………………… 1
B. Perumusan Masalah………………………………………………….. 3
C. Tujuan Penelitian………………………………………………………. 3
D. Kegunaan Penelitian………………………………………………….. 4
BAB II LANDASAN TEORI
A. Teori Yang Melandasi Permasalahan…………………………… 5
1. Pengertian Pemasaran………………………………………….. 5
2. Manajemen Pemasaran………………………………………… 6
3. Pengertian Produk………………………………………………… 6
4. Pengertian perilaku konsumen……………………………….. 7
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen 9
6. Peran konsumen dalam membeli……………………………. 19
7. Jenis-jenis tingkah laku keputusan pembelian………….. 20
8. Proses Keputusan Membeli…………………………………… 23
9. Hasil Penelitian Terdahulu Yang Relevan………………… 28
B. Hipotesis………………………………………………………………….. 29
BAB III METODE PENELITIAN
A. Identifikasi dan Definisi Konseptual Variabel…………………. 30
B. Definisi Operasional Variabel………………………………………. 32
C. Ruang Lingkup Penelitian…………………………………………… 33
D. Lokasi Penelitian……………………………………………………….. 34
E. Populasi, dan Sampel………………………………………………… 34
F. Jenis Sumber Data……………………………………………………. 35
G. Teknik Pengumpulan Data………………………………………….. 36
H. Uji Validitas dan Reliabilitas………………………………………… 37
I. Teknik Analisis Data…………………………………………………… 39
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN HASIL
PENELITIAN
A. Hasil Penelitian…………………………………………………………. 43
1. Sejarah Universitas Merdeka Malang……………………… 43
2. Gambaran umum mahasiswa konsumen
produk mie sedap…………………………………………………. 48
B. Pembahasan Hasil Penelitian……………………………………… 50
1. Deskripsi Responden……………………………………………. 50
2. Deskripsi Variabel Penelitian………………………………….. 52
3. Pengujian Instrumen Penelitian
(Uji Validitas dan Realibilitas)…………………………………. 62
4. Analisis Data………………………………………………………… 65
C. Implikasi Hasil Penelitian……………………………………………. 72
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan………………………………………………………………. 73
B. Saran……………………………………………………………………….. 74
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Jenis Kelamin Responden Mahasiswa
Konsumen Produk Mie Instan Merk Sedap…………………………….. 50
2. Usia Responden Mahasiswa
Konsumen Produk Mie Instan Merk Sedap…………………………….. 51
3. Kiriman orang tua per bulan Responden Mahasiswa
Konsumen Produk Mie Instan Merk Sedap…………………………….. 51
4. Distribusi Jawaban Dari Berbagai Item Budaya (X1)
Terhadap Keputusan Pembelian (Y)………………………………………. 53
5. Distribusi Jawaban Dari Berbagai Item Sosial (X2)
Terhadap Keputusan Membeli (Y)…………………………………………. 55
6. Distribusi Jawaban Dari Berbagai Item Pribadi (X3)
Terhadap Keputusan Membeli (Y)…………………………………………. 57
7. Distribusi Jawaban Dari Berbagai Item Psikologis (X4)
Terhadap Keputusan Membeli (Y)…………………………………………. 59
8. Distribusi Jawaban Dari Berbagai Item
Keputusan Pembelian (Y)…………………………………………………….. 61
9. Hasil Uji Validitas Butir Kuesioner…………………………………………. 63
10.Hasil Pengujian Reliabilitas………………………………………………….. 64
11. Rekapitulasi Hasil Analisa Regresi Berganda…………………………. 65
12.Tabel Anova Hasil Analisis Data……………………………………………. 68
13.Perbandingan t-hitung dengan taraf signifikan (α = 5%)…………… 70
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar
1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkah Laku Konsumen…… 9
2. Hirarki Kebutuhan Menurut Maslow………………………………………. 16
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran
1. Kuesioner penelitian
2. Tabel Hasil Jawaban Kuesioner Penelitian
3. Tabel Distribusi Frekuensi
4. Hasil Uji Validitas Instrumen
5. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen
6. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
ABSTRAKSI
Produk mie instan sebagaimana diketahui adalah salah satu produk
makanan cepat saji yang semakin lama semakin banyak digemari masyarakat
karena kemudahan dalam hal penyajiannya. Demikian juga bagi kalangan
mahasiswa yang sebagian besar berdomisili jauh dari orang tua, produk ini
merupakan makanan cepat saji yang biasa dikonsumsi karena harganya yang
terjangkau, mudah didapatkan dan sifatnya yang tahan lama. Dengan
semakin banyaknya mie instan yang ada di pasaran berarti memberikan
keleluasaan bagi konsumen untuk memilih merk yang sesuai dengan
keinginannya. Oleh karena itu perlu bagi perusahaan untuk menganalisis
perilaku konsumen mie instan untuk mengetahui pola pembeliannya. Dengan
banyaknya merk mie instan yang ada di pasaran akan mendorong
perusahaan bersaing mendapatkan calon konsumen melalui berbagai strategi
yang tepat, misalnya mengubah kemasan, warna, aroma, promosi dan harga.
Lebih jauh lagi produsen dalam mendistribusikan produknya ke pasar
konsumen berusaha agar produknya dapat diterima sesuai dengan apa yang
diinginkan konsumen.
Dari uraian tersebut di atas maka judul penelitian ini adalah: Analisis
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsumen Dalam Pengambilan
Keputusan Pembelian Produk Mie Instan Merek Sedaap (Studi Pada
Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unmer Malang).
Penelitian ini bertujuan untuk:1) Untuk mengetahui dan menganalisis
pengaruh perilaku konsumen yang terdiri dari faktor budaya, sosial, pribadi
dan psikologis terhadap keputusan untuk membeli produk mie instan merek
sedaap, 2) Untuk mengetahui diantara faktor budaya, sosial, pribadi dan
psikologi yang berpengaruh dominan terhadap keputusan mahasiswa untuk
membeli produk mie instan merek sedaap. Dengan menggunakan analisis
regresi linier berganda dan menggunakan sampel sebanyak 40 responden
mahasiswa didapatkan hasil sebagai berikut: Dari hasil analisis didapatkan
bahwa variabel faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologis secara
simultan/bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan (bermakna)
terhadap keputusan pembelian produk mie instan merek Sedaap dan variabel
psikologis mempunyai pengaruh dominan terhadap keputusan pembelian
produk mie instan merk Sedaap.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Permasalahan Penelitian
Perkembangan teknologi dan industri membawa dampak bagi
kehidupan manusia terutama dunia usaha pada saat ini. Di samping itu
banyaknya usaha yang bermunculan baik perusahaan kecil maupun besar
berdampak pada persaingan yang ketat antar perusahaan baik yang
sejenis maupun yang tidak sejenis. Oleh karena itu pemasaran
merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dalam menghadapi
persaingan, pengembangan usaha dan untuk mendapatkan laba,
sehingga perusahaan dapat mengembangkan produknya, menetapkan
harga, mengadakan promosi dan mendistribusikan barang dengan efektif.
Pada umumnya perusahaan mengalami kesulitan dalam
memonitor, memahami dan menganalisis perilaku konsumen secara tepat
dan benar, mengingat banyaknya faktor yang mempengaruhi perilaku
konsumen dan adanya perbedaan perilaku untuk masing-masing individu.
Dengan demikian perusahaan dituntut untuk dapat memantau perubahanperubahan
perilaku konsumennya, termasuk perilaku konsumen untuk
mendapatkan atau memilih produk.
Produk mie instan sebagaimana diketahui adalah salah satu
produk makanan cepat saji yang semakin lama semakin banyak digemari
masyarakat karena kemudahan dalam hal penyajiannya. Demikian juga
bagi kalangan mahasiswa yang sebagian besar berdomisili jauh dari orang
tua, produk ini merupakan makanan cepat saji yang biasa dikonsumsi
karena harganya yang terjangkau, mudah didapatkan dan sifatnya yang
tahan lama. Dengan semakin banyaknya mie instan yang ada di pasaran
berarti memberikan keleluasaan bagi konsumen untuk memilih merk yang
sesuai dengan keinginannya. Oleh karena itu perlu bagi perusahaan untuk
menganalisis perilaku konsumen mie instan untuk mengetahui pola
pembeliannya. Dengan banyaknya merk mie instan yang ada di pasaran
akan mendorong perusahaan bersaing mendapatkan calon konsumen
melalui berbagai strategi yang tepat, misalnya mengubah kemasan,
warna, aroma, promosi dan harga. Lebih jauh lagi produsen dalam
mendistribusikan produknya ke pasar konsumen berusaha agar
produknya dapat diterima sesuai dengan apa yang diinginkan konsumen.
Keanekaragaman konsumen dalam memenuhi kebutuhan
sehari-hari dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari
diri konsumen maupun luar konsumen. Beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi perilaku konsumen diantaranya adalah faktor budaya,
sosial, pribadi dan psikologis.Dari uraian tersebut di atas maka judul
penelitian ini adalah: Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Konsumen Dalam Pengambilan Keputusan Pembelian Produk Mie Instan
Merek Sedaap (Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unmer Malang).
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas dapat ditarik
perumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologis
terhadap keputusan mahasiswa untuk membeli produk mie instan
merek sedaap?
2. Dari faktor Budaya, sosial, pribadi, dan psikologis diatas, faktor mana
yang berpengaruh dominan terhadap keputusan untuk membeli produk
mie instan merek sedaap?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka dapat disusun
tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh perilaku konsumen
yang terdiri dari faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologis terhadap
keputusan untuk membeli produk mie instan merek sedaap
2. Untuk mengetahui diantara faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologi
yang berpengaruh dominan terhadap keputusan mahasiswa untuk
membeli produk mie instan merek sedaap.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi perusahaan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan
informasi dan masukan bagi pihak perusahaan untuk mengetahui
faktor dominan yang menjadi pertimbangan konsumen untuk
mengkonsumsi produk yang ditawarkan sehingga pihak perusahaan
akan dapat senantiasa menyusun strategi dalam rangka memenuhi
harapan konsumen.
2. Bagi penulis, selain sebagai syarat menyelesaikan pendidikan, juga
dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan bidang ilmu manajemen
pemasaran, dan melatih penulis untuk dapat menerapkan teori-teori
yang diperoleh dari perkuliahan.
3. Bagi perguruan tinggi, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai
bahan perbandingan dan referensi untuk penelitian selanjutnya.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Teori Yang Melandasi Permasalahan
Dalam rangka memperoleh suatu pedoman guna lebih
memperdalam masalah, maka perlu dikemukakan suatu landasan teori
yang bersifat ilmiah. Dalam landasan teori ini dikemukakan teori yang ada
hubungannya dengan materi-materi yang digunakan dalam pemecahan
masalah yaitu teori-teori tentang perilaku konsumen dan keputusan
pembelian.
1. Pengertian Pemasaran
Pengertian pemasaran mengandung pengertian yang lebih luas
dari sekedar penjualan dan periklanan. Tjiptono (2002:7) memberikan
definisi pemasaran adalah:
Suatu proses sosial dan manajerial dimana individu atau
kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan
inginkan melalui penciptaan, pewarnaan, dan pertukaran segala
sesuatu yang bernilai dengan orang atau kelompok lain.
Sedangkan Assauri (1999:4) mendefinisikan pemasaran:
“Sebagai usaha menyediakan dan menyampaikan barang dan jasa
yang tepat kepada orang-orang yang tepat pada tempat dan waktu
serta harga yang tepat dengan promosi dan komunikasi yang tepat”.
Dari definisi di atas menunjukkan bahwa pemasaran merupakan
serangkaian prinsip untuk memilih pasar sasaran (target market),
mengevaluasi kebutuhan konsumen, mengembangkan barang dan
jasa, pemuas keinginan, memberikan nilai kepada konsumen dan laba
bagi perusahaan.
2. Manajemen Pemasaran
Manajemen pemasaran merupakan suatu tindakan yang
dilakukan oleh perusahaan yang ditujukan untuk mengatur proses
pertukaran.
Menurut Tjiptono (2002:16) adalah:
Manajemen pemasaran adalah proses perencanaan dan
pelaksanaan konsepsi penentuan harga, promosi dan distribusi
barang, jasa dan gagasan untuk menciptakan pertukaran
dengan kelompok sasaran yang memenuhi tujuan pelanggan
dan organisasi.
Sedangkan menurut Rismiati (2001:33) adalah:
Sebagai analisis, perencanaan, implementasi, dan
pengendalian atas program-program yang dirancang untuk
menciptakan, membangun dan menjaga pertukaran yang
menguntungkan dengan pembeli sasaran untuk mencapai
tujuan organisasional.
3. Pengertian Produk
Pada dasarnya sebagian besar keuntungan yang didapat oleh
perusahaan berasal dari kepuasan konsumen dalam menikmati
produknya. Konsep produksi berpendapat bahwa konsumen akan
menyukai produk yang berkualitas dengan harga yang relatif murah.
Untuk itu perusahaan dalam proses kegiatan produksi haruslah
mengerti dan tahu dengan benar akan arti dari produk itu sendiri.
Kotler et.al (2000:212) mengemukakan bahwa produk adalah:
“Segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk menarik
perhatian, dimiliki, digunakan atau dikonsumsi yang dapat memuaskan
keinginan atau kebutuhan”.
Selanjutnya produk itu dijelaskan lebih lanjut oleh Lamb,
Charles et. al (2001:414): “Produk didefinisikan sebagai segala
sesuatu baik yang menguntungkan maupun tidak yang diperoleh
seseorang melalui pertukaran”.
Dari definisi di atas dapat dijelaskan bahwa produk adalah
segala sesuatu yang memiliki nilai untuk dipasarkan untuk dibeli,
dipergunakan atau dikonsumsi untuk memenuhi keinginan atau
kebutuhan.
4. Pengertian perilaku konsumen
Perilaku konsumen menyangkut masalah keputusan yang
diambil seseorang dalam persaingannya dan penentuan untuk
mendapatkan dan mempergunakan barang dan jasa.
Konsumen mengambil banyak macam keputusan membeli
setiap hari. Kebanyakan perusahaan besar meneliti keputusan
membeli konsumen secara amat rinci untuk menjawab pertanyaan
mengenai apa yang dibeli konsumen, dimana mereka membeli,
bagaimana dan berapa banyak mereka membeli, serta mengapa
mereka membeli. Pemasar dapat mempelajari apa yang dibeli
konsumen untuk mencari jawaban atas pertanyaan mengenai apa
yang mereka beli, dimana dan berapa banyak, tetapi mempelajari
mengenai alasan tingkah laku konsumen bukan hal yang mudah,
jawabannya seringkali tersembunyi jauh dalam benak konsumen.
Pengertian perilaku konsumen seperti diungkapkan oleh Mowen
(2002:6) mengatakan: “Studi tentang unit pembelian (buying unit) dan
proses pertukaran yang melibatkan perolehan, konsumsi dan
pembuangan, barang, jasa, pengalaman serta ide-ide”.
Swastha dan Handoko (2000:10) mengatakan:
Perilaku konsumen (consumer behavior) dapat didefinisikan
sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung
terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barangbarang
dan jasa-jasa, termasuk didalamnya proses
pengambilan keputusan pada persiapan dan menentukan
kegiatan-kegiatan tertentu.
Dari pengertian di atas maka perilaku konsumen merupakan
tindakan-tindakan dan hubungan sosial yang dilakukan oleh
konsumen perorangan, kelompok maupun organisasi untuk menilai,
memperoleh dan menggunakan barang-barang serta jasa melalui
proses pertukaran atau pembelian yang diawali dengan proses
pengambilan keputusan yang menentukan tindakan-tindakan tersebut.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen
Dalam memahami perilaku konsumen perlu dipahami siapa
konsumen, sebab dalam suatu lingkungan yang berbeda akan memiliki
penelitian, kebutuhan, pendapat, sikap dan selera yang berbeda.
Menurut Kotler (2001:144):
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah
kebudayaan, faktor sosial, pribadi, psikologis. Sebagian faktorfaktor
tersebut tidak diperhatikan oleh pemasar tetapi
sebenarnya harus diperhitungkan untuk mengetahui seberapa
jauh faktor-faktor perilaku konsumen tersebut mempengaruhi
pembelian konsumen.
Gambar 1
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkah Laku Konsumen
Budaya Sosial
Kelompok Acuan
Keluarga
Peran dan Status
Pribadi
Umur dan Tahap
daur hidup
Pekerjaan
Situasi ekonomi
Gaya hidup
Kepribadian dan
konsep diri
Psikologis
Motivasi
Persepsi
Pengetahuan
Keyakinan dan
Sikap
Budaya Pembeli
Subbudaya
Kelas Sosial
Sumber : (Kotler, 2001:144)
Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Faktor kebudayaan
Kebudayaan merupakan penentu keinginan dan perilaku
yang paling mendasar untuk mendapatkan nilai, persepsi,
preferensi dan perilaku dari lembaga-lembaga penting lainnya.
Faktor kebudayaan memberikan pengaruh paling luas dan
dalam pada tingkah laku konsumen. Pemasar harus mengetahui
peran yang dimainkan oleh:
Kebudayaan
1) Budaya
Budaya adalah kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi,
keinginan dan tingkah laku yang dipelajari oleh seorang
anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya.
Menurut Kotler dan Amstrong (1997:144) termasuk dalam
budaya ini adalah pergeseran budaya serta nilai nilai dalam
keluarga.
2) Sub budaya
Sub budaya adalah sekelompok orang dengan sistem
nilai terpisah berdasarkan pengalaman dan situasi kehidupan
yang umum.
Sub budaya termasuk nasionalitas, agama, kelompok
ras, dan wilayah geografis.
3) Kelas sosial
Kelas sosial adalah divisi masyarakat yang relatif
permanen dan teratur dengan para anggotanya menganut nilainilai,
minat dan tingkah laku yang serupa.
b. Faktor sosial
Kelas sosial merupakan Pembagian masyarakat yang relatif
homogen dan permanen yang tersusun secara hierarkis dan yang
anggotanya menganut nilai-nilai, minat, dan perilaku yang serupa.
Kelas sosial ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti
pendapatan, tetapi diukur sebagai kombinasi dari pekerjaan,
pendapatan, pendidikan, kekayaan dan variabel lain. Dalam
beberapa sistem sosial, anggota dari kelas yang berbeda
memelihara peran tertentu dan tidak dapat mengubah posisi sosial
mereka.
Tingkah laku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor
sosial, yaitu:
1) Kelompok
Kelompok adalah dua orang atau lebih yang berinteraksi
untuk mencapai sasaran individu atau bersama. Beberapa
merupakan kelompok primer yang mempunyai interaksi reguler
tapi informal-seperti keluarga, teman, tetangga dan rekan
sekerja. Beberapa merupakan kelompok sekunder, yang
mempunyai interaksi lebih formal dan kurang reguler. Ini
mencakup organisasi seperti kelompok keagamaan, asosiasi
profesional dan serikat pekerja.
2) Keluarga
Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang
paling penting dalam masyarakat dan telah diteliti secara
mendalam, pemasar tertarik dalam peran dan pengaruh suami,
istri dan anak-anak pada pembelian berbagai produk dan jasa.
3) Peran dan status
Peran terdiri dari aktivitas yang diharapkan dilakukan
seseorang menurut orang-orang yang ada disekitarnya. Setiap
peran membawa status yang mencerminkan penghargaan yang
diberikan oleh masyarakat. Orang seringkali memilih produk
yang menunjukkan statusnya dalam masyarakat.
c. Faktor pribadi
Faktor pribadi didefinisikan sebagai karakteristik psikologis
seseorang yang berbeda dengan orang lain yang menyebabkan
tanggapan yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap
lingkungan.
Keputusan membeli juga dipengaruhi oleh karakteristik
pribadi, yaitu:
1) Umur dan tahap daur hidup
Orang mengubah barang dan jasa yang mereka beli
selama masa hidupnya. Selera akan makanan, pakaian, perabot
dan rekreasi sering kali berhubungan dengan umur. Membeli
juga dibentuk oleh tahap daur hidup keluarga, tahap-tahap yang
mungkin dilalui oleh keluarga sesuai dengan kedewasaannya.
Pemasar seringkali menentukan sasaran pasar dalam bentuk
tahap daur hidup dan mengembangkan produk yang sesuai
serta rencana pemasaran untuk setiap tahap.
2) Pekerjaan
Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa
yang dibelinya. Pemasar berusaha mengenali kelompok
pekerjaan yang mempunyai minat di atas rata-rata akan produk
dan jasa mereka. Sebuah perusahaan bahkan dapat melakukan
spesialisasi dalam memasarkan produk menurut kelompok
pekerjaan tertentu.
3) Situasi ekonomi
Situasi ekonomi sekarang akan mempengaruhi pilihan
produk. Pemasar produk yang peka terhadap pendapatan
mengamati kecenderungan dalam pendapatan pribadi,
tabungan dan tingkat minat. Bila indikator ekonomi
menunjukkan resesi, pemasar dapat mengambil langkahlangkah
untuk merancang ulang, memposisikan kembali dan
mengubah harga produknya.
4) Gaya hidup
Pola kehidupan seseorang yang diwujudkan dalam
aktivitas (pekerjaan, hobi, berbelanja, olahraga, kegiatan sosial),
minat (makanan, mode, keluarga, rekreasi) dan opini yang lebih
dari sekedar kelas sosial dan kepribadian seseorang, gaya
hidup menampilkan pola bereaksi dan berinteraksi seseorang
secara keseluruhan di dunia.
5) Kepribadian dan Konsep Diri
Kepribadian setiap orang jelas mempengaruhi tingkah
laku membelinya. Kepribadian mengacu pada karakteristik
psikologi unik yang menyebabkan respons yang relatif konsisten
dan bertahan lama terhadap lingkungan dirinya sendiri.
Kepribadian biasanya diuraikan dalam arti sifat-sifat seperti rasa
percaya diri, dominasi, kemudahan bergaul, otonomi,
mempertahankan diri, kemampuan menyesuaikan diri, dan
keagresifan. Kepribadian dapat bermanfaat untuk menganalisis
tingkah laku konsumen untuk pemilihan produk atau merek
tertentu.
d. Faktor psikologis
Faktor psikologis sebagai bagian dari pengaruh lingkungan
dimana ia tinggal dan hidup pada waktu sekarang tanpa
mengabaikan pengaruh dimasa lampau atau antisipasinya pada
waktu yang akan datang
Pilihan barang yang dibeli seseorang lebih lanjut dipengaruhi
oleh faktor psikologi yang penting:
1) Motivasi
Kebutuhan yang cukup untuk mengarahkan seseorang
mencari cara untuk memuaskan kebutuhan.
Dalam urutan kepentingan, jenjang kebutuhannya adalah
kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial,
kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan pengaktualisasian diri.
Mula-mula seseorang mencoba untuk memuaskan kebutuhan
yang paling penting. Kalau sudah terpuaskan, kebutuhan itu
tidak lagi menjadi motivator dan kemudian orang tersebut akan
mencoba memuaskan kebutuhan paling penting berikutnya.
Misalnya orang yang kelaparan (kebutuhan fisiologis) tidak akan
tertarik dengan apa yang terjadi dalam dunia seni (kebutuhan
mengaktualisasikan diri), tidak juga pada bagaimana orang lain
memandang dirinya atau penghargaan orang lain (kebutuhan
sosial atau penghargaan), bahkan tidak tertarik juga pada
apakah mereka menghirup udara bersih (kebutuhan rasa
aman).
Menurut Engel (2000:285): “Kebutuhan yang diaktifkan
akhirnya menjadi diekspresikan dalam perilaku dan pembelian
dan konsumsi dalam bentuk dua jenis manfaat yaitu : 1)
manfaat utilitarian dan 2) Manfaat hedonik/pengalaman”.
Dalam motif pembelian produk menurut Engel (2000:285)
adalah dengan mempertimbangkan dua manfaat yaitu:
“Manfaat utilitarian merupakan atribut produk fungsional
yang obyektif. Manfaat hedonik, sebaliknya mencakup respon
emosional, kesenangan panca indera, mimpi dan pertimbanganpertimbangan
estetis”.
Gambar 2
Hirarki Kebutuhan Menurut Maslow
Kebutuhan
Mengaktualisasikan
diri
(pengembangan
diri dan realisasi)
Kebutuhan akan penghargaan
diri, pengakuan, status
Kebutuhan Sosial
(rasa memiliki, cinta)
Kebutuhan akan rasa aman
(kepastian, perlindungan)
Kebutuhan Fisiologis
(Lapar,haus)
Sumber : (Kotler, 2001:197)
2) Persepsi
Persepsi adalah proses yang dilalui orang dalam memilih,
mengorganisasikan dan mengintepretasikan informasi guna
membentuk gambaran yang berarti mengenai dunia.
Seseorang yang termotivasi siap untuk bertindak.
Bagaimana orang tersebut bertindak dipengaruhi oleh
persepsinya mengenai situasi. Orang dapat membentuk
persepsi berbeda dari rangsangan yang sama karena 3 macam
proses penerimaan indera, yaitu:
a) Perhatian selektif
Kecenderungan bagi manusia untuk menyaring
sebagian besar informasi yang mereka hadapi, berarti
bahwa pemasar harus bekerja cukup keras untuk menarik
perhatian konsumen.
b) Distorsi selektif
Menguraikan kecenderungan orang untuk mengintepretasikan
informasi dengan cara yang akan mendukung
apa yang telah mereka yakini.
c) Ingatan selektif
Orang cenderung lupa akan sebagian besar hal yang
mereka pelajari. Mereka cenderung akan mempertahankan
atau mengingat informasi yang mendukung sikap dan
keyakinan mereka. Karena adanya ingatan selektif.
3) Pengetahuan
Pembelajaran menggambarkan perubahan dalam tingkah
laku individual yang muncul dari pengalaman. Pentingnya
praktik dari teori pengetahuan bagi pemasar adalah mereka
dapat membentuk permintaan akan suatu produk dengan
menghubungkannya dengan dorongan yang kuat,
menggunakan petunjuk yang membangkitkan motivasi, dan
memberikan peranan positif.
Menurut Kotler (2000:157) menyatakan:
Pembelajaran menggambarkan perubahan dalam tingkah
laku individual yang muncul dari pengalaman. Ahli teori
pembelajaran mengatakan bahwa kebanyakan tingkah
laku manusia dipelajari. Pembelajaran berlangsung
melalui saling pengaruh dorongan, rangsangan, petunjuk
respon dan pembenaran.
4) Keyakinan dan sikap
Melalui tindakan dan pembelajaran, orang mendapatkan
keyakinan dan sikap. Keduanya ini, pada waktunya
mempengaruhi tingkah laku membeli. Keyakinan adalah
pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang mengenai sesuatu.
Keyakinan didasarkan pada pengetahuan yang sebenarnya,
pendapat atau kepercayaan dan mungkin menaikkan emosi
atau mungkin tidak.
Pemasaran tertarik pada keyakinan bahwa orang yang
merumuskan mengenai produk dan jasa spesifik, karena
keyakinan ini menyusun citra produk dan merek yang
mempengaruhi tingkah laku membeli yang mempengaruhi
tingkah laku membeli. Bila ada sebagian keyakinan yang salah
dan menghalangi pembelian, pemasar pasti ingin meluncurkan
usaha untuk mengkoreksinya.
Sikap menguraikan evaluasi, perasaan dan
kecenderungan dari seseorang terhadap suatu obyek atau ide
yang relatif konsisten. Sikap menempatkan orang dalam suatu
kerangka pemikiran mengenai menyukai atau tidak menyukai
sesuatu mengenai mendekati atau menjauhinya.
Menurut Kotler (2000:157) :
Keyakinan adalah pemikiran deskriptif yang dimiliki
seseorang mengenai sesuatu. Keyakinan ini mungkin
didasarkan pada pengetahuan sebenarnya, pendapat
atau kepercayaan dan mungkin menaikkan emosi dan
mungkin tidak.
6. Peran konsumen dalam membeli
Menurut Engel et. Al (2000:31) Keputusan pembelian adalah
proses merumuskan berbagai alternatif tindakan guna menjatuhkan
pilihan pada salah satu alternatif tertentu untuk melakukan pembelian.
Pemasar perlu mengetahui siapa yang terlibat dalam keputusan
membeli dan peran apa yang dimainkan oleh setiap orang untuk
banyak produk, cukup mudah untuk mengenali siapa yang mengambil
keputusan.
Menurut Engel et. Al (2000:33) beberapa peran dalam
keputusan membeli:
a. Pemrakarsa orang yang pertama menyarankan atau
mencetuskan gagasan membeli produk atau jasa tertentu.
b. Pemberi pengaruh: orang yang pandangan atau sarannya
mempengaruhi keputusan membeli.
c. Pengambil keputusan : orang yang akhirnya membuat
keputusan membeli atau sebagian dari itu, apakah akan
membeli, apa yang dibeli, bagaimana membelinya atau di
mana membeli.
d. Pembeli : orang yang benar-benar melakukan pembelian
e. Pengguna : orang yang mengkonsumsi atau menggunakan
produk atau jasa.
Mengetahui peserta utama proses pembelian dan peran yang
mereka mainkan membantu pemasar untuk menyesuaikan program
pemasaran.
7. Jenis-jenis tingkah laku keputusan pembelian
Semakin kompleks keputusan yang harus diambil biasanya
semakin banyak pertimbangannya untuk membeli. Menurut (Kotler,
2000:160): adapun jenis-jenis tingkah laku membeli konsumen
berdasarkan pada derajat keterlibatan dan tingkat perbedaan antara
merek, yaitu:
a. tingkah laku membeli yang komplek
b. tingkah laku membeli yang mengurangi ketidakcocokan.
c. tingkah laku membeli yang mencari variasi
d. tingkah laku membeli yang menjadi kebiasaan.
Penjelasan jenis-jenis tingkah laku tersebut adalah sebagai berikut:
a. Tingkah laku membeli yang kompleks
Tingkah laku membeli konsumen dalam situasi yang
bercirikan keterlibatan tinggi konsumen dalam pembelian dan
perbedaan besar yang dirasakan diantara merek.
Pembeli ini akan melewati proses pembelajaran, pertama
mengembangkan keyakinan mengenai produk, kemudian sikap,
dan selanjutnya membuat pilihan membeli yang dipikirkan masakmasak.
Pemasar dari produk yang banyak melibatkan peserta
harus memahami tingkah laku pengumpulan informasi dan evaluasi
dari konsumen yang amat terlibat. Mereka perlu membantu pembeli
belajar mengenai atribut kelas produk dan kepentingan relatif
masing-masing, dan mengenai apa yang ditawarkan merk tertentu,
mungkin dengan menguraikan panjang lebar keunggulan mereka
lewat media cetak.
b. Tingkah laku membeli yang mengurangi ketidakcocokan
Tingkah laku membeli konsumen dalam situasi yang
bercirikan keterlibatan konsumen yang tinggi tetapi sedikit
perbedaan yang dirasakan diantara merek. Tingkah laku membeli
yang mengurangi ketidakcocokan terjadi ketika konsumen amat
terlibat dalam pembelian barang yang mahal, jarang dibeli dan
beresiko tetapi melihat sedikit perbedaan diantara merek.
c. Tingkah laku membeli yang merupakan kebiasaan
Tingkah laku membeli yang menjadi kebiasaan terjadi di
bawah kondisi keterlibatan konsumen yang rendah dan perbedaan
merek yang dirasakan besar.
Konsumen tampaknya mempunyai keterlibatan yang rendah
dengan kebanyakan produk yang mempunyai harga murah dan
sering dibeli.
Dalam hal ini, tingkah laku konsumen tidak diteruskan lewat
urutan keyakinan – sikap – tingkah laku yang biasa. Konsumen
tidak mencari informasi secara ekstensif mengenai merek mana
yang akan dibeli. Sebaliknya, mereka secara pasif menerima
informasi ketika menonton televisi atau membaca majalah.
Pengulangan iklan menciptakan pengenalan akan merek bukan
keyakinan pada merek. Konsumen tidak membentuk sikap yang
kuat terhadap suatu merek; mereka memilih merek karena sudah
dikenal. Karena keterlibatan mereka dengan produk tidak tinggi,
konsumen mungkin tidak mengevaluasi pilihan bahkan setelah
membeli. Jadi, proses membeli melibatkan keyakinan merek yang
terbentuk oleh pembelajaran pasif, diikuti dengan tingkah laku
membeli, yang mungkin diikuti atau tidak dengan evaluasi.
Karena pembeli tidak memberikan komitmen yang kuat pada
suatu merek, pemasar produk yang kurang terlibat pada beberapa
perbedaan merek seringkali menggunakan harga dan promosi
penjualan untuk merangsang konsumen agar mau mencoba
produk.
d. Tingkah laku membeli yang mencari variasi
Konsumen menjalani tingkah laku membeli yang mencari
variasi dalam situasi yang ditandai oleh keterlibatan konsumen
rendah, tetapi perbedaan merk dianggap berarti.
Dalam kategori produk seperti ini, strategi pemasaran
mungkin berbeda untuk merk yang menjadi pemimpin pasar dan
untuk merk yang kurang ternama. Perusahaan akan mendorong
pencarian variasi dengan menawarkan harga rendah, penawaran
khusus, kupon, sampel gratis, dan iklan yang menunjukkan alasan
untuk mencoba sesuatu yang baru.
8. Proses Keputusan Membeli
Menurut (Kotler, 2000:204) tahap-tahap yang dilewati
pembeli untuk mencapai keputusan membeli melewati lima tahap,
yaitu:
a. Pengenalan Masalah
b. Pencarian Informasi
c. Evaluasi alternatif
d. Keputusan Membeli
e. Tingkah laku pasca pembelian.
Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Pengenalan masalah
Proses membeli dimulai dengan pengenalan masalah dimana
pembeli mengenali adanya masalah atau kebutuhan. Pembeli
merasakan perbedaan antara keadaan nyata dan keadaan yang
diinginkan.
b. Pencarian informasi
Seorang konsumen yang sudah terkait mungkin mencari
lebih banyak informasi tetapi mungkin juga tidak. Bila dorongan
konsumen kuat dan produk yang dapat memuaskan ada dalam
jangkauan, konsumen kemungkinan akan membelinya. Bila tidak,
konsumen dapat menyimpan kebutuhan dalam ingatan atau
melakukan pencarian informasi yang berhubungan dengan
kebutuhan tersebut.
Pengaruh relatif dari sumber informasi ini bervariasi menurut
produk dan pembeli. Pada umumnya, konsumen menerima
sebagian besar informasi mengenai suatu produk dari sumber
komersial, yang dikendalikan oleh pemasar. Akan tetapi, sumber
paling efektif cenderung sumber pribadi. Sumber pribadi tampaknya
bahkan lebih penting dalam mempengaruhi pembelian jasa.
Sumber komersial biasanya memberitahu pembeli, tetapi sumber
pribadi membenarkan atau mengevaluasi produk bagi pembeli.
Misalnya, dokter pada umumnya belajar mengenai obat baru cari
sumber komersial, tetapi bertanya kepada dokter lain untuk
informasi yang evaluatif.
c. Evaluasi alternatif
Tahap dari proses keputusan membeli, yaitu ketika
konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi merk
alternatif dalam perangkat pilihan. Konsep dasar tertentu
membantu menjelaskan proses evaluasi konsumen. Pertama, kita
menganggap bahwa setiap konsumen melihat produk sebagai
kumpulan atribut produk. Kedua, konsumen akan memberikan
tingkat arti penting berbeda terhadap atribut berbeda menurut
kebutuhan dan keinginan unik masing-masing. Ketiga, konsumen
mungkin akan mengembangkan satu himpunan keyakinan merek
mengenai dimana posisi setiap merek pada setiap atribut.
Keempat, harapan kepuasan produk total konsumen akan
bervariasi pada tingkat atribut yang berbeda. Kelima, konsumen
sampai pada sikap terhadap merek berbeda lewat beberapa
prosedur evaluasi. Ada konsumen yang menggunakan lebih dari
satu prosedur evaluasi, tergantung pada konsumen dan keputusan
pembelian.
Bagaimana konsumen mengevaluasi alternatif barang yang
akan dibeli tergantung pada masing-masing individu dan situasi
membeli spesifik. Dalam beberapa keadaan, konsumen
menggunakan perhitungan dengan cermat dan pemikiran logis.
Pada waktu lain, konsumen yang sama hanya sedikit mengevaluasi
atau tidak sama sekali; mereka membeli berdasarkan dorongan
sesaat atau tergantung pada intuisi. Kadang-kadang konsumen
mengambil keputusan membeli sendiri; kadang-kadang mereka
bertanya pada teman, petunjuk bagi konsumen, atau wiraniaga
untuk memberi saran pembelian.
Pemasar harus mempelajari pembeli untuk mengetahui
bagaimana sebenarnya mereka mengevaluasi alternatif merek. Bila
mereka mengetahui proses evaluasi apa yang sedang terjadi,
pemasar dapat membuat langkah-langkah untuk mempengaruhi
keputusan membeli.
d. Keputusan membeli
Dalam tahap evaluasi, konsumen membuat peringkat merek
dan membentuk niat untuk membeli. Pada umumnya, keputusan
membeli konsumen adalah membeli merek yang paling disukai,
tetapi dua faktor dapat muncul antara niat untuk membeli dan
keputusan untuk membeli. Faktor pertama adalah sikap orang lain,
yaitu pendapat dari orang lain mengenai harga, merek yang akan
dipilih konsumen. Faktor kedua adalah faktor situasi yang tidak
diharapkan, harga yang diharapkan dan manfaat produk yang
diharapkan. Akan tetapi peristiwa-peristiwa yang tak diharapkan
bisa menambah niat pembelian.
e. Tingkah laku pasca pembelian
Tahap dari proses keputusan pembeli, yaitu konsumen
mengambil tindakan lebih lanjut setelah membeli berdasarkan pada
rasa puas atau tidak puas. Yang menentukan pembeli merasa puas
atau tidak puas dengan suatu pembelian terletak pada hubungan
antara harapan konsumen dengan prestasi yang diterima dari
produk. Bila produk tidak memenuhi harapan, konsumen merasa
tidak puas, bila memenuhi harapan konsumen merasa puas, bila
melebihi harapan konsumen akan merasa puas.
Konsumen mendasarkan harapan mereka pada informasi
yang mereka terima dari penjual, teman dan sumber-sumber yang
lain. Bila penjual melebih-lebihkan prestasi produknya, harapan
konsumen tidak akan terpenuhi dan hasilnya ketidakpuasan.
Semakin besar antara kesenjangan antara harapan dan prestasi,
semakin besar ketidakpuasan kosumen. Hal ini menunjukkan
bahwa pembeli harus membuat pernyataan yang jujur mengenai
prestasi produknya sehingga pembeli akan puas.
9. Hasil Penelitian Terdahulu Yang Relevan
Rianawati (2005) judul “Analisis Pengaruh Faktor Dari Perilaku
Konsumen Terhadap Pembelian Produk Aqua (Studi pada
Masyarakat Desa Slimbung Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten
Kediri” Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini
adalah:
1) Apakah faktor Kebudayaan, faktor sosial, faktor pribadi, faktor
psikologis secara bersama-sama berpengaruh terhadap perilaku
konsumen dalam penghambilan keputusan mengkonsumsi produk
Aqua?
2) Dari pengaruh faktor Kebudayaan, faktor sosial, faktor pribadi, faktor
psikologis diatas mana yang berpengaruh dominan terhadap
penghambilan keputusan mengkonsumsi produk Aqua?.
Dari hasil analisis didapatkan hasil uji hipotesis pertama bahwa
variabel kebudayaan, sosial, pribadi, dan psikologis secara simultan
atau bersama-sama mempengaruhi keputusan konsumen dalam
mengkonsumsi produk air minum merek Aqua dapat diterima atau
teruji.
Hasil hipotesis kedua menunjukkan bahwa faktor psikologis secara
parsial berpengaruh signifikan dan dominan terhadap keputusan
mengkonsumsi produk air minum merek Aqua.
B. Hipotesis
Hipotesis ini merupakan jawaban sementara terhadap masalah
penelitian yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris.
Dari perumusan masalah, tujuan penelitian, landasan teori dan
telah dituangkan dalam kerangka pikir, maka dapat ditarik hipotesis
sebagai berikut:
1. Diduga bahwa faktor kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologis secara
bersama-sama berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk
mie instan merk Sedaap
2. Diduga bahwa pengaruh psikologis berpengaruh dominan terhadap
keputusan pembelian produk mie instan merk Sedaap.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Identifikasi dan Definisi Konseptual Variabel
1. Identifikasi variabel
a. Variabel bebas atau independent dalam penelitian ini adalah:
(x1) Kebudayaan
(x2) Sosial
(x3) Pribadi
(x4) Psikologi
b. Variabel terikat (dependent) ini adalah: Keputusan
menggunakan produk (y).
2. Definisi konseptual variabel
a. Variabel bebas perilaku konsumen
Menurut Kotler (2001: 144-157)
1) Kebudayaan (X1)
Mendefinisikan : “Kebudayaan merupakan penentu
keinginan dan perilaku yang paling mendasar untuk
mendapatkan nilai, persepsi, preferensi dan perilaku dari
lembaga-lembaga penting lainnya”.
2) Sosial (X2)
Mendefinisikan : “Pembagian masyarakat yang relatif
homogen dan permanen yang tersusun secara hierarkis dan
yang anggotanya menganut nilai-nilai, minat, dan perilaku
yang serupa”.
3) Pribadi (X3)
Mendefinisikan: “Karakteristik psikologis seseorang yang
berbeda dengan orang lain yang menyebabkan tanggapan
yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap
lingkungan”.
4) Psikologi (X4)
Mendefinisikan: “Sebagai bagian dari pengaruh lingkungan
dimana ia tinggal dan hidup pada waktu sekarang tanpa
mengabaikan pengaruh dimasa lampau atau antisipasinya
pada waktu yang akan datang”.
b. Variabel bebas keputusan pembelian
Menurut Engel et.all, (2000:31): “Keputusan pembelian
adalah proses merumuskan berbagai alternatif tindakan guna
menjatuhkan pilihan pada salah satu alternatif tertentu untuk
melakukan pembelian”.
B. Definisi Operasional Variabel
1. Kebudayaan (X1)
Merupakan suatu ciri khas dari sekumpulan orang yang diterapkan
secara turun-temurun sebagai penuntun dari kehidupan mereka
sehari-sehari.
Indikator dari variabel tersebut terdiri dari:
a. Pergeseran budaya
b. Wilayah geografis
c. Kelas sosial
2. Sosial (X2)
Merupakan tingkat status sosial masyarakat atau keadaan ekonomi
seseorang yang terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan,
tabungan dan milik kebanyakan, pekerjaan serta variabel-variabel
yang lainnya:
Indikatornya adalah:
a. Mengikuti lingkungan
b. Pengalaman dari anggota keluarga
c. Mengikuti teman
3. Pribadi (X3)
Merupakan suatu keadaan dimana seseorang mempunyai
sifat untuk bisa menentukan keputusannya sesuai dengan
keinginannya tanpa ada paksaan dari pihak lain.
Adapun indikator dari variabel tersebut adalah:
a. Uang saku
b. Situasi ekonomi
b. Gaya hidup
4. Psikologis (X4)
Merupakan suatu keadaan dimana seseorang mempunyai
keinginan-keinginan yang berasal dari diri pribadinya untuk
menentukan keputusannya sesuai dengan keinginannya.
Indikatornya terdiri dari:
a. Motivasi
b. Persepsi
c. Pengetahuan
5. Keputusan pembelian produk (Y)
Merupakan suatu tindakan konsumen dalam usaha untuk
memenuhi kebutuhannya mengkonsumsi mie instan diikuti oleh
kepuasan yang dirasakan oleh konsumen tersebut.
Dari variabel ini dapat ditentukan indikatornya antara lain:
a. Menjatuhkan pilihan atau alternatif pada produk yang terbaik
b. Pengambilan keputusan dilakukan secara sadar, rasional,
obyektif dan terencana.
c. Pembelian kembali
C. Ruang Lingkup Penelitian
Fokus penelitian ini lebih dititikberatkan pada bidang pemasaran
yaitu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku mahasiswa
dalam melakukan keputusan untuk melakukan pemberian produk mie
instan merk Sedaap.
D. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan pada Fakultas Ekonomi
Universitas Merdeka Malang.
E. Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan subyek/obyek penelitian.
Sedangkan sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.
Populasi adalah totalitas dari semua obyek atau individu yang akan
diteliti yang mana memiliki karakteristik tertentu, jelas dan lengkap.
Sedangkan sampel merupakan bagian dari populasi yang diambil
melalui cara-cara tertentu yang juga memiliki karakteristik tertentu,
jelas, dan lengkap yang dianggap bisa mewakili populasi.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa Fakultas
Ekonomi Unmer Malang yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi
produk mie instan merk sedaap, karena besar populasi tidak dapat
diketahui secara pasti berapa jumlahnya, oleh karena itu sulit mencari
berapa jumlah populasi yang tepat.
Namun berdasarkan pendapat ahli seperti yang dikemukakan
oleh Gay (dalam Hasan, 2002:68): “ukuran sampel minimum yang
dapat diterima bisa dilihat berdasarkan pada desain atau metode
penelitian yang digunakan. Jika desain penelitiannya deskriptifkorelasional,
maka sampel minimum adalah 30”. Dan Menurut
Supranto (1997:239) menyatakan bahwa: “Sampel penelitian meliputi
sejumlah elemen (responden) yang lebih besar dari persyaratan
minimal sebanyak 30 elemen atau responden”.
Dalam penelitian ini jumlah sampel yang ditentukan oleh peneliti
adalah sebesar 40 orang dengan pertimbangan terbatasnya waktu,
dana dan tenaga.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah teknik accidental sampling. Teknik accidental sampling adalah
teknik penarikan sampel secara kebetulan yaitu siapa saja yang
kebetulan ditemui peneliti di lokasi penelitian yaitu pada FE Unmer
Malang dimana kuesioner dibagikan kepada mahasiswa yang
kebetulan pernah mengkonsumsi produk mie sedaap dengan melalui
wawancara awal yang dilakukan penulis.
F. Jenis Sumber Data
1. Sumber data
Sumber data yang digunakan adalah data primer. Adapun
data primernya dalam hal ini adalah data yang diperoleh dari
jawaban responden yang diteliti, yaitu berupa data mengenai
pendapat atau fenomena dari obyek.
2. Skala Pengukuran
Penulis memperoleh langsung data-data yang dibutuhkan
berdasarkan dari keterangan dan informasi yang diberikan
responden melalui angket (Kuesioner) yang telah disebarkan
dengan metode skor, pemberian skor ini digunakan sistem skala
lima, yaitu:
a. Jawaban a (Sangat setuju) diberi skor 5
b. Jawaban b (Setuju) diberi skor 4
c. Jawaban c (Cukup Setuju) diberi skor 3
d. Jawaban d (Tidak Setuju) diberi skor 2
e. Jawaban e (Sangat Tidak Setuju) diberi skor 1
G. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara acak
untuk memperoleh sampel dari populasi yang dimaksud, agar
diperoleh data yang baik maka dipilih dengan menggunakan metode:
1. Wawancara
Penulis mengadakan wawancara langsung dengan pihakpihak
yang bersangkutan, yaitu para mahasiswa yang terpilih
sebagai responden guna mendapatkan data-data yang diperlukan.
2. Kuesioner
Kuesioner yang dibagikan secara langsung oleh penulis
kepada responden yang ditemui secara langsung di FE Unmer
Malang
3. Dokumentasi
Dokumentasi, merupakan teknik pengumpulan data dengan
cara membaca dan mengamati, mengolah laporan-laporan serta
catatan yang menunjang penelitian ini.
H. Uji Validitas dan Reliabilitas
1. Uji Validitas
Uji validitas adalah untuk mengetahui tingkat kevalidan dari
instrumen (kuesioner) yang digunakan dalam pengumpulan data.
Uji validitas ini dilakukan untuk mengetahui apakah item-item yang
tersaji dalam kuesioner benar-benar mampu mengungkapkan
dengan pasti apa yang akan diteliti.
Uji validitas ini diperoleh dengan cara mengkorelasi setiap
skor indikator dengan total skor indikator variabel, kemudian hasil
korelasi dibandingkan dengan nilai kritis pada taraf siginifikan 0,05.
Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa
yang diinginkan dan tinggi rendahnya validitas instrumen
menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang
dari gambaran tentang variabel yang dimaksud.
Menurut Sugiyono (2004:138) : “Cara yang digunakan
adalah dengan analisa Item, dimana setiap nilai yang ada pada
setiap butir pertanyaan dikorelasikan dengan total nilai seluruh butir
pertanyaan untuk suatu variabel dengan menggunakan rumus
korelasi product moment”. Syarat minimum untuk dianggap valid
adalah nilai r hitung > dari nilai r tabel.
Adapun perhitungan korelasi product moment, dengan rumus
seperti yang dikemukakan oleh Arikunto (1998 : 220):
[ å å ][ å å ]
å å å
- -
-
=
N X2 ( X)2 N Y2 ( Y)2
n XY ( X)( Y)
r
Dimana:
r = Koefisien korelasi variabel bebas dan variabel terikat
n = Banyaknya sampel
X = Skor tiap item
Y = Skor total variabel
2. Uji Reliabilitas
Sedangkan uji reliabilitas dimaksudkan untuk mengetahui
adanya konsistensi alat ukur dalam penggunaannya, atau dengan
kata lain alat ukur tersebut mempunyai hasil yang konsisten apabila
digunakan berkali-kali pada waktu yang berbeda.
Menurut Arikunto (1998:145): “Untuk uji reliabilitas digunakan
Teknik Alpha Cronbach, dimana suatu instrumen dapat dikatakan
handal (reliabel) bila memiliki koefisien keandalan atau alpha
sebesar 0,6 atau lebih.
Pada penelitian ini perhitungan reliabilitas menggunakan
rumus alpha (Arikunto, 1998: 138) sebagai berikut:
÷ ÷ ø
ö
ç ç
è
æ
- ÷
ø
ö ç
è
æ
-
= å
2
2
11 στ
σb
1
k 1
r k
Dimana:
N
N
x
åx å -
=
2
2
s
r11 = reliabilitas instrumen
k = banyaknya butir pertanyan
sb2 = jumlah varians butir
st 2 = jumlah varians total
I. Teknik Analisis Data
Untuk mempermudah analisis digunakan aplikasi pengolah data
SPSS.
1. Analisis Regresi Berganda
Untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap
variabel terikatnya menurut Sanusi, Anwar (2003:309) digunakan
rumus analisis regresi linier berganda sebagai berikut:
y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 + e
dimana :
y = dependent variabel (pembelian)
a = konstata
b1, b2, b3,b4 = koefisien regresi
n = banyaknya sampel
x1, x2, x3,x4 = independent variabel.
2. Uji Hipotesis I (Uji F)
Untuk menguji kebenaran hipotesis pertama digunakan uji F
yaitu untuk menguji keberartian/signifikansi regresi secara
keseluruhan dengan rumus hipotesis sebagai berikut:
H0 : b1 = b2 = b3 = b4 = 0,
Artinya variasi dari model regresi berhasil menerangkan
variasi variabel bebas secara keseluruhan, sejauh mana
pengaruhnya terhadap variabel tidak bebas (variabel terikat)
Ha : b1 ¹ b2 ¹ b3 ¹ b4 ¹ 0
Artinya variasi dari model regresi tidak berhasil
menerangkan variasi variabel bebas secara keseluruhan, sejauh
mana pengaruhnya terhadap variabel tidak bebas (variabel terikat)
Pengujian dengan uji F variansnya adalah dengan
membandingkan Fhitung (Fh) dengan Ftabel (Ft) pada a = 0,05 apabila
hasil perhitungannya menunjukkan:
a. Fh > Ft, maka H0 ditolak dan Ha diterima
Artinya variasi dari model regresi berhasil menerangkan
variasi variabel bebas secara keseluruhan, sejauh mana
pengaruhnya terhadap variabel tidak bebas (variabel terikat)
b. Fh < Ft, maka H0 diterima dan Ha ditolak
Artinya variasi dari model regresi tidak berhasil
menerangkan variasi variabel bebas secara keseluruhan,
sejauh mana pengaruhnya terhadap variabel tidak bebas
(variabel terikat)
3. Uji Hipotesis II (Uji t)
Untuk menguji kebenaran hipotesis kedua langkah pertama
yang dilakukan adalah pengujian secara parsial melalui uji t.
Adapun rumusan hipotesis dengan menggunakan Uji t adalah
sebagai berikut:
H0 : b1 = b2 = b3 = b4 = 0
Artinya variasi variabel bebas dapat menerangkan variabel
tidak bebas (variabel terikat) dan terdapat pengaruh diantara kedua
variabel yang diuji
Ha : b1 ¹ b2 ¹ b3 ¹ b4 ¹ 0
Artinya variasi variabel bebas tidak dapat menerangkan
variabel tidak bebas (variabel terikat) dan terdapat pengaruh antara
dua variabel yang diuji.
Pengujian dilakukan melalui uji t dengan membandingkan
thitung (th) dengan t tabel (tt) pada a 0,05. Apabila hasil perhitungan
menunjukkan:
a. th ≥ tt maka H0 ditolak dan Ha diterima
Artinya variasi variabel bebas dapat menerangkan variabel tidak
bebas (variabel terikat) dan terdapat pengaruh diantara kedua
variabel yang diuji
b. th
tt) atau diperoleh harga p tt) atau diperoleh
harga probabilitas signifikannya
r tabel, maka dapat dikatakan bahwa suatu instrumen adalah valid.
Dari hasil pengujian validitas pada tabel 9 dapat dilihat bahwa
keseluruhan item variabel penelitian mempunyai r hitung > r tabel
yaitu pada taraf signifikan 95% ( a=0,05) dan n = 40 diperoleh r
tabel = 0,312, maka dapat diketahui r hasil tiap-tiap item > 0,312
sehingga dapat dikatakan bahwa keseluruhan item variabel
penelitian adalah valid untuk digunakan sebagai instrument dalam
penelitian atau pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat
digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti.
b. Uji Reliabilitas
Sedangkan uji reliabilitas dimaksudkan untuk
mengetahui adanya konsistensi alat ukur dalam penggunaannya,
atau dengan kata lain alat ukur tersebut mempunyai hasil yang
konsisten apabila digunakan berkali-kali pada waktu yang berbeda.
Menurut Arikunto (1998:145): “Untuk uji reliabilitas digunakan
Teknik Alpha Cronbach, dimana suatu instrumen dapat dikatakan
handal (reliabel) bila memiliki koefisien keandalan atau alpha
sebesar 0,6 atau lebih.
Adapun hasil uji reliabilitas yang dilakukan terhadap
instrumen penelitian ini dapat dijelaskan pada tabel berikut ini:
Tabel 10
Hasil Pengujian Reliabilitas
No Butir Dalam
Kuesioner
Nilai
Alpha
Status
1. X1 0.9344 Reliabel
2. X2 0.9442 Reliabel
3. X3 0.9708 Reliabel
4. X4 0.9841 Reliabel
5. Y 0.9517 Reliabel
Sumber : Data primer yang diolah, 2006.
Teknik pengujian reliabilitas item menggunakan metode
alpha cronbach. Hasil pengujian reliabilitas diperoleh nilai koefisen
Alpha untuk variabel (X1) sebesar 0,9344, (X2) sebesar 0,9442, (X3)
sebesar 0,9708, (X4) sebesar 0,9841 dan (Y) sebesar 0,9517. Hal
tersebut dapat dikatakan nilai koefisien reliabilitas berkisar antara 0
sampai dengan 1 semakin mendekati 1 menunjukkan bahwa item
semakin reliabel. Hal ini berarti bahwa item pertanyaan yang
digunakan akan mampu memperoleh data yang konsisten dalam
arti jika pertanyaan tersebut diajukan lagi akan diperoleh jawaban
yang relatif sama dengan jawaban pertama.
4. Analisis Data
Rekapitulasi hasil analisa korelasi dan regresi linier berganda
selanjutnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 11
Rekapitulasi Hasil Analisa Regresi Berganda
Variabel Koefisien
Regresi
t hitung Prob.
(sig. t)
(a = 0,05)
X1 (Kebudayaan)
X2 (Sosial)
X3 (Pribadi)
X4 (Psikologis)
0.117
0.155
0.266
0.464
0.810
1.441
3.400
5.201
0.424
0.159
0.002
0.000
Konstata
F hitung
Adjust R2
R Square (R2)
R
0.102
550.850
0.984
0.983
0.992
Variabel terikat = Y (Keputusan Pembelian produk)
Sumber : Data primer yang diolah, 2006.
a. Analisis Regresi Linier Berganda
Y = 0,102 + 0,117X1 + 0,155X2 + 0,266X3 + 0,464X4
a = 0,102 adalah bilangan konstanta yang berarti apabila variabel
bebas yaitu X1, X2, X3, dan X4 sama dengan nol, maka
besarnya variabel Y (Keputusan pembelian produk) adalah
0,102. Dengan kata lain jika variabel bebas perilaku
konsumen nilainya dianggap nol berarti besarnya adalah
0,102. Karena besarnya keputusan pembelian produk tidak
dapat digambarkan secara kuantitatif, jika tidak ada variabel
perilaku konsumen (budaya, sosial, pribadi dan psikologis)
masih ada kecenderungan.
b1 = 0,117 adalah besarnya koefisien regresi variabel bebas X1
Kebudayaan yang berarti setiap peningkatan (penambahan)
variabel X1 kebudayaan berupa peningkatan pergeseran
budaya, wilayah geografis, dan kelas sosial akan
meningkatkan variabel terikat Y (keputusan pembelian
produk) sebesar 0,117. Dengan asumsi variabel bebas
lainnya (X2, X3, dan X4) konstan. Jika variabel kebudayaan,
ada kecenderungan meningkat maka keputusan pembelian
akan meningkat. Jika variabel kebudayaan ada
kecenderungan menurun maka keputusan konsumen juga
akan menurun.
b2 = 0,155 adalah besarnya koefisien regresi variabel bebas X2
sosial yang berarti setiap peningkatan (penambahan)
variabel X2 sosial berupa mengikuti lingkungan, pengalaman
anggota keluarga dan mengikuti teman akan meningkatkan
variabel terikat Y (keputusan pembelian produk) sebesar
0,155. Dengan asumsi variabel bebas lainnya (X1, X3, dan X4)
konstan. Jika variabel sosial, ada kecenderungan meningkat
maka keputusan pembelian akan meningkat. Jika variabel
sosial ada kecenderungan menurun maka keputusan
konsumen juga akan menurun.
b3 = 0,266 adalah besarnya koefisien regresi variabel bebas X3
pribadi yang berarti setiap peningkatan (penambahan)
variabel X3 pribadi berupa uang saku, situasi ekonomi dan
gaya hidup akan meningkatkan variabel terikat Y (keputusan
pembelian produk) sebesar 0,266. Dengan asumsi variabel
bebas lainnya (X1, X2, dan X4) konstan. Jika variabel pribadi,
ada kecenderungan meningkat maka keputusan pembelian
akan meningkat. Jika variabel pribadi ada kecenderungan
menurun maka keputusan konsumen juga akan menurun.
b4 = 0,464 adalah besarnya koefisien regresi variabel bebas X4
psikologis yang berarti setiap peningkatan (penambahan)
variabel X4 psikologis berupa motivasi, persepsi dan
pengetahuan akan meningkatkan variabel terikat Y
(keputusan pembelian produk) sebesar 0,464. Dengan
asumsi variabel bebas lainnya (X1, X2, dan X3) konstan. Jika
variabel psikologis, ada kecenderungan meningkat maka
keputusan pembelian akan meningkat. Jika variabel
psikologis ada kecenderungan menurun maka keputusan
konsumen juga akan menurun.
Dari persamaan regresi tersebut dapat dilihat bagaimana
pengaruh variabel bebas (X1, X2, X3, X4) terhadap variabel terikat
(Y). Pengaruh positif menunjukkan bahwa perubahan variabel
bebas (X1, X2, X3, X4) akan searah dengan perubahan keputusan
pembelian konsumen (Y)
a) Uji F (Pengujian Hipotesis I)
Hasil analisis data dengan menggunakan program SPSS
11.0 for windows dapat disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 12
Tabel Anova Hasil Analisis Data
ANOVAb
246.066 4 61.517 550.850 .000a
3.909 35 .112
249.975 39
Regression
Residual
Total
Model
1
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Predictors: (Constant), a. X4, X2, X3, X1
b. Dependent Variable: Y
Sumber : Data Diolah
Dari tabel di atas didapatkan hasil F hitung sebesar 550,850
dengan tingkat signifikan 0.000, serta df penyebut 4 dan df
pembilang sebesar 35.
Untuk menguji hipotesis pertama: diduga bahwa faktor
kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologis secara bersamasama
berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk mie
instan merk Sedaap digunakan Uji F. Uji F dilakukan dengan
membandingkan F hitung dengan F Tabel pada taraf nyata a =
0,05
Berdasarkan tabel 12 dapat disimpulkan bahwa F hitung
sebesar 550,850 > dari F tabel 2,63 yang berarti bahwa pada
taraf nyata a = 0,05 variabel faktor budaya (X1), sosial (X2),
pribadi (X3) dan psikologis (X4) secara simultan/bersama-sama
mempunyai pengaruh signifikan (bermakna) terhadap
keputusan pembelian produk mie instan merek Sedaap (Y)
dapat diterima atau teruji pada taraf nyata a = 0,05. Selain itu
untuk mengetahui signifikansi pengaruh variabel terikat
terhadap variabel bebas secara bersama-sama dengan
membandingkan antara probabilitas signifikan (0,000) dengan a
(0,05). Dimana, jika probabilitas < a maka variabel bebas
secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel
terikat. Dengan demikian hipotesis I teruji secara statistik.
c. Uji t (Pengujian Hipotesis II)
Untuk menguji hipotesis kedua yang menyatakan bahwa
diduga variabel psikologis (X4) mempunyai pengaruh yang dominan
terhadap keputusan pembelian produk mie instan merek Sedaap
(Y), maka dalam penelitian ini melihat besarnya masing-masing
nilai t hitung dari variabel bebas. Adapun signifikasi dari masingmasing
koefisien diuji dengan menggunakan uji parsial t-test
tampak pada tabel sebagai berikut:
Tabel 13
Perbandingan t-hitung dengan taraf signifikan (α = 5%)
Variabel Nilai
t-hitung
Nilai
t-tabel
Prob.
Sig. t
Keterangan
X1
X2
X3
X4
0.810
1.441
3.400
5.201
2.021
2.021
2.021
2.021
0.424
0.159
0.002
0.000
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Signifikan
Signifikan
Sumber : Data primer yang diolah, 2006.
Sumber : Data primer yang diolah, 2006.
Dari tabel 13 dapat diketahui hasil koefisien t hitung
menunjukkan bahwa variabel budaya (X1) mempunyai nilai t hitung
sebesar (0,810) lebih kecil dibandingkan dengan nilai t tabel pada
taraf nyata sebesar (2,021), atau dapat dikatakan budaya (X1) tidak
berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk mie instant
merek Sedaap (Y).
Hasil koefisien t hitung menunjukkan bahwa variabel sosial
(X2) mempunyai nilai t hitung sebesar (1,441) lebih kecil
dibandingkan dengan nilai t tabel pada taraf nyata sebesar (2,021),
atau dapat dikatakan variabel sosial (X2) tidak berpengaruh
terhadap keputusan pembelian produk mie instant merek Sedaap
(Y).
Hasil koefisien t hitung variabel pribadi (X3) mempunyai nilai t
hitung sebesar (3,400) lebih besar dibandingkan dengan nilai t tabel
pada taraf nyata sebesar (2,021), atau dapat dikatakan variabel
pribadi (X3) mempunyai pengaruh signifikan terhadap keputusan
pembelian produk mie instant merek Sedaap (Y).
Hasil koefisien t hitung variabel psikologis (X4) mempunyai
nilai t hitung sebesar (5,201) lebih besar dibandingkan dengan nilai
t tabel pada taraf nyata sebesar (2,021), atau dapat dikatakan
variabel psikologis (X4) berpengaruh signifikan terhadap keputusan
pembelian produk mie instant merek Sedaap (Y).
Dari tabel di atas dapat dijelaskan juga bahwa variabel
psikologis (X4) mempunyai nilai t-hitung yang paling besar jika
dibandingkan dengan nilai t hitung variabel lainnya. Selain itu juga
diketahui koefisien regresi variabel psikologis (X4) yang lebih besar
dibandingkan koefisien regresi lainnya. Sehingga hipotesis kedua
yang menyatakan bahwa variabel psikologis berpengaruh dominan
terhadap keputusan pembelian produk mie instan merk Sedaap
teruji secara statistik.
d. R square (R2)
Dari hasil analisis diperoleh nilai adjusted R square (R2)
sebesar 0,983 hal ini menunjukkan bahwa variabel bebas (X1, X2,
X3, dan X4) secara bersama-sama memberikan kontribusi terhadap
variabel terikat Y (keputusan pembelian produk mie instan merk
Sedaap) sebesar 98,3% dan setelah disesuaikan nilai sisanya
sebesar 1,7% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan
dalam penelitian ini.
C. Implikasi Hasil Penelitian
Dari hasil analisis data yang dilakukan di atas, didapatkan hasil
bahwa keempat variabel perilaku konsumen (kebudayaan, sosial, pribadi
dan psikologis) pada mahasiswa FE Unmer Malang secara simultan
ternyata berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk mie instant
merek Sedaap. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan pembelian
konsumen pada bergantung pada keempat faktor perilaku konsumen
terdiri dari budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Namun dari uji parsial
hanya variabel pribadi dan psikologis yang berpengaruh signifikan
terhadap keputusan pembelian.
Dengan diketahui bahwa variabel psikologis mempunyai pengaruh
yang siginifikan dan dominan terhadap keputusan pembelian maka dalam
hal ini yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan oleh perusahaan atau
produsen untuk meningkatkan penjualannya dengan selalu berupaya
untuk memahami psikologis konsumen maupun calon konsumen melalui
motif membeli, persepsi tentang produk maupun pengetahuan tentang
produk.
Produk mie instant yang dijual dengan berbagai macam rasa
terbukti mampu memotivasi konsumen untuk membeli. Hal ini terlihat dari
respon konsumen (mahasiswa) terhadap kuesioner yang diberikan,
melalui variabel perilaku konsumen yang terdiri faktor budaya, faktor
sosial, faktor pribadi dan faktor psikologis”.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan berikut
disampaikan kesimpulan:
1. Dari hasil analisis didapatkan bahwa variabel faktor budaya, sosial,
pribadi dan psikologis secara simultan/bersama-sama mempunyai
pengaruh signifikan (bermakna) terhadap keputusan pembelian produk
mie instan merek Sedaap.
2. variabel psikologis mempunyai pengaruh dominan terhadap keputusan
pembelian produk mie instan merk Sedaap.
B. Saran
Dari hasil penelitian, analisis dan kesimpulan di atas, berikut
beberapa saran yang dapat disampaikan:
1. Mengingat keberadaan mie Sedaap dikalangan mahasiswa FE Unmer
Malang mudah didapat, harga terjangkau, iklan, dan kandungan gizi
hendaknya kondisi tetap terjaga agar konsumen tidak berpindah ke
merek lain. Dengan demikian saluran distribusi perlu di jaga.
2. Karena pengaruh faktor psikologis yang terdiri dari motivasi, persepsi
dan pengetahuan menjadi pertimbangan konsumen dalam melakukan
keputusan pembelian pada produk mie instant merek Sedaap, maka
perusahaan (produsen mie instan merek Sedaap) lebih hati-hati
karena dari konsumen yang diteliti yaitu mahasiswa terlihat keputusan
beli mereka tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain, daya beli sedang
dan kebanyakan belum berpenghasilan sehingga faktor perimbangan
harga dan kualitas menjadi pertimbangan tersendiri
3. Dari besarnya nilai koefisien determinasi maupun kontribusi yang
diberikan oleh faktor perilaku konsumen terhadap keputusan
pembelian menunjukkan bahwa masih diperlukan adanya penelitian
lanjutan bagi peneliti lain untuk meneliti variabel lain yang tidak
dimasukkan dalam penelitian ini, karena munculnya sebuah perilaku
pembelian konsumen merupakan akibat dari banyak faktor antara lain
marketing mix (produk, harga, promosi dan distribusi), situasional
(lingkungan sosial, lingkungan fisik, dampak sementara, dan keadaan
sebelumnya).
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Edisi Revisi. Cetakan Kesembilan. Rineka Cipta. Jakarta.
Assauri, Sofjan. 1999. Manajemen Pemasaran. Penerbit PT. Raja Grafindo
Persada Jakarta.
Hasan, Iqbal. 2002. Pokok-Pokok Materi Statistik II: Statistik Inferensial.
Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.
J. Paul, et.al. 2000. Consumer Behavior. Jilid Satu. Edisi Keempat.
Kotler, Philip dan AB. Susanto. 2001. Manajemen Pemasaran Indonesia.
Buku 2. Salemba empat. Jakarta.
Kotler, Philip. 2000. Manajemen Pemasaran . Jilid 2. Bumi Aksara. Jakarta.
Lamb, Charles. W. et.al. 2001. Pemasaran. Buku I Edisi Pertama. Penerbit
Salemba Empat. Jakarta.
Mowen. H. 2002. Perilaku Konsumen. Jilid I. Penerbit. Andi. Yogyakarta.
Rianawati, Eka Ana, 2005. Analisis Pengaruh Faktor Dari Perilaku Konsumen
Terhadap Pembelian Produk Aqua (Studi pada Masyarakat Desa
Slimbung Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri. Skripsi.
Universitas Merdeka Malang.
Rismiati, Catur. dan Bondan Sutrisno. 2001. Pemasaran Barang dan Jasa.
Kanisius. Jakarta.
Sanusi, Anwar. 2003. Metodologi Penelitian Praktis Untuk Ilmu Sosial dan
Ekonomi. Edisi Pertama. Cetakan Pertama. Penerbit Buntara Media.
Malang
Sugiyono. 2004. Metode Penelitian Bisnis. Cetakan Pertama. Penerbit CV.
Alpha Beta. Bandung.
Supranto, J. 1997. Metode Peramalan Kuantitatif Untuk Perencanaan
Ekonomi dan Bisnis. Rineka Cipta. Jakarta.
Swasta, Basu dan Handoko, T. Hani. 2000. Manajemen Barang dalam
Pemasaran. Cetakan Kedua BPFE, Yogjakarta.
Tjiptono, Fandy. 2002. Strategi Pemasaran. Edisi Kedua. Cetakan Keenam.
Penerbit. Andy. Yogyakarta.
DAFTAR PERTANYAAN
A. IDENTITAS RESPONDEN
Alamat :
Jenis Kelamin :
Untuk pertanyaan ini, silahkan saudara memilih salah satu jawaban
dengan memberi tanda silang (X) pada huruf yang telah anda pilih
1. Usia responden saat ini:
a. Kurang dari 20 tahun
b. 20 tahun
c. Di atas 20 tahun
2. Kiriman dari orang tua per bulan:
a. Dibawah Rp. 500.000,-
b. Rp. 500.000,- s/d Rp. 1.000.000,-
c. Rp. 1.000.000,- s/d Rp. 1.500.000,-
d. Diatas Rp. 1.500.000,-
B. PERTANYAAN PENELITIAN
Pilihlah salah satu jawaban yang paling sesuai menurut pendapat saudara
yang menyangkut pengaruh perilaku konsumen serta kaitannya dengan
Keputusan Pembelian dengan memberikan tanda silang (X) pada Kolom
jawaban yang anda anggap paling sesuai.
Keterangan Kolom Jawaban:
A = Sangat Setuju (5)
B = Setuju (4)
C = Cukup Setuju (3)
D = Tidak setuju (2)
E = Sangat Tidak Setuju (1)
Pertanyaan yang berkaitan dengan :
Kebudayaan (X1)
No Pertanyaan A B C D E
1. Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek
Sedaap karena sudah terbiasa mengkonsumsi
produk sebagai pengganti nasi
2. Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek
Sedaap karena mudah di peroleh di wilayah
tempat tinggal
3. Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek
Sedaap karena dapat mencerminkan kelas
sosial
Pertanyaan yang berkaitan dengan :
Sosial (X2)
No Pertanyaan A B C D E
1. Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek
Sedaap karena kebiasaan mengkonsumsi mie
instan di sekitar lingkungan anda saat ini
2. Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek
Sedaap karena adanya pengalaman dari
anggota keluarga sebelumnya
3. Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek
Sedaap karena adanya pengaruh dari teman
Pertanyaan yang berkaitan dengan :
Pribadi (X3)
No Pertanyaan A B C D E
1. Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek
Sedaap karena menyesuaikan dengan uang
saku anda
2. Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek
Sedaap karena menyesuaikan dengan situasi
ekonomi
3. Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek
Sedaap karena dapat mencerminkan gaya
hidup anda
Pertanyaan yang berkaitan dengan :
Psikologis (X4)
No Pertanyaan A B C D E
1. Anda termotivasi mengkonsumsi produk mie
instan Merek Sedaap karena praktis dan
mudah di dapat
2. Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek
Sedaap karena adanya persepsi atas iklan
produk mie instan tersebut
3. Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek
Sedaap karena adanya pemahaman atas
kandungan gizi produk
Pertanyaan yang berkaitan dengan :
Keputusan Pembelian Produk (Y)
No Pertanyaan A B C D E
1. Dengan membeli mie instan merk Sedaap
berarti anda telah menjatuhkan pilihan atau
alternatif pada produk yang terbaik
2. Dengan membeli mie instan merk Sedaap
berarti anda telah melakukan pengambilan
keputusan dilakukan secara sadar, rasional,
obyektif dan terencana.
3. Dengan membeli mie instan merk Sedaap dan
merasakannya anda akan terdorong untuk
melakukan pembelian kembali
Summarize
Case Summariesa
4.00 4.00 5.00 13.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 4.00 4.00 3.00 11.00 4.00 4.00 5.00 13.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00
4.00 4.00 4.00 12.00 5.00 4.00 4.00 13.00 3.00 3.00 3.00 9.00 4.00 3.00 4.00 11.00 4.00 4.00 4.00 12.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
4.00 4.00 4.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00 3.00 5.00 5.00 13.00
5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00
3.00 5.00 5.00 13.00 4.00 4.00 4.00 12.00 3.00 5.00 5.00 13.00 4.00 4.00 4.00 12.00 3.00 5.00 5.00 13.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
3.00 4.00 5.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00 3.00 4.00 5.00 12.00 3.00 3.00 4.00 10.00 3.00 4.00 5.00 12.00
5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00
5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00
5.00 4.00 5.00 14.00 3.00 5.00 5.00 13.00 5.00 4.00 5.00 14.00 5.00 4.00 5.00 14.00 5.00 4.00 5.00 14.00
5.00 3.00 5.00 13.00 5.00 3.00 5.00 13.00 4.00 4.00 4.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 4.00 4.00 4.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00
5.00 3.00 5.00 13.00 5.00 3.00 5.00 13.00 4.00 4.00 4.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00
3.00 4.00 4.00 11.00 3.00 4.00 4.00 11.00 4.00 4.00 4.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
4.00 4.00 4.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00
4.00 4.00 4.00 12.00 3.00 4.00 3.00 10.00 4.00 4.00 4.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00 4.00 4.00 4.00 12.00
3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00 3.00 3.00 3.00 9.00
5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00
5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00 5.00 5.00 5.00 15.00
40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
Total N
X1.1 X1.2 X1.3 X1 X2.1 X2.2 X2.3 X2 X3.1 X3.2 X3.3 X3 X4.1 X4.2 X4.3 X4 Y1.1 Y1.2 Y1.3 Y
a. Limited to first 100 cases.
Frequencies
Statistics
40 40 40
0 0 0
Valid
Missing
N
X1.1 X1.2 X1.3
Frequency Table
X1.1
22 55.0 55.0 55.0
5 12.5 12.5 67.5
13 32.5 32.5 100.0
40 100.0 100.0
3.00
4.00
5.00
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
X1.2
21 52.5 52.5 52.5
8 20.0 20.0 72.5
11 27.5 27.5 100.0
40 100.0 100.0
3.00
4.00
5.00
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
X1.3
19 47.5 47.5 47.5
5 12.5 12.5 60.0
16 40.0 40.0 100.0
40 100.0 100.0
3.00
4.00
5.00
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Frequencies
Statistics
40 40 40
0 0 0
Valid
Missing
N
X2.1 X2.2 X2.3
Frequency Table
X2.1
22 55.0 55.0 55.0
4 10.0 10.0 65.0
14 35.0 35.0 100.0
40 100.0 100.0
3.00
4.00
5.00
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
X2.2
21 52.5 52.5 52.5
7 17.5 17.5 70.0
12 30.0 30.0 100.0
40 100.0 100.0
3.00
4.00
5.00
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
X2.3
20 50.0 50.0 50.0
6 15.0 15.0 65.0
14 35.0 35.0 100.0
40 100.0 100.0
3.00
4.00
5.00
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Frequencies
Statistics
40 40 40
0 0 0
Valid
Missing
N
X3.1 X3.2 X3.3
Frequency Table
X3.1
21 52.5 52.5 52.5
7 17.5 17.5 70.0
12 30.0 30.0 100.0
40 100.0 100.0
3.00
4.00
5.00
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
X3.2
19 47.5 47.5 47.5
9 22.5 22.5 70.0
12 30.0 30.0 100.0
40 100.0 100.0
3.00
4.00
5.00
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
X3.3
19 47.5 47.5 47.5
7 17.5 17.5 65.0
14 35.0 35.0 100.0
40 100.0 100.0
3.00
4.00
5.00
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Frequencies
Statistics
40 40 40
0 0 0
Valid
Missing
N
X4.1 X4.2 X4.3
Frequency Table
X4.1
19 47.5 47.5 47.5
10 25.0 25.0 72.5
11 27.5 27.5 100.0
40 100.0 100.0
3.00
4.00
5.00
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
X4.2
20 50.0 50.0 50.0
10 25.0 25.0 75.0
10 25.0 25.0 100.0
40 100.0 100.0
3.00
4.00
5.00
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
X4.3
19 47.5 47.5 47.5
10 25.0 25.0 72.5
11 27.5 27.5 100.0
40 100.0 100.0
3.00
4.00
5.00
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Frequencies
Statistics
40 40 40
0 0 0
Valid
Missing
N
Y1.1 Y1.2 Y1.3
Frequency Table
Y1.1
21 52.5 52.5 52.5
8 20.0 20.0 72.5
11 27.5 27.5 100.0
40 100.0 100.0
3.00
4.00
5.00
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Y1.2
18 45.0 45.0 45.0
10 25.0 25.0 70.0
12 30.0 30.0 100.0
40 100.0 100.0
3.00
4.00
5.00
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Y1.3
18 45.0 45.0 45.0
7 17.5 17.5 62.5
15 37.5 37.5 100.0
40 100.0 100.0
3.00
4.00
5.00
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Correlations
Correlations
1 .761** .866** .933**
. .000 .000 .000
40 40 40 40
.761** 1 .851** .923**
.000 . .000 .000
40 40 40 40
.866** .851** 1 .965**
.000 .000 . .000
40 40 40 40
.933** .923** .965** 1
.000 .000 .000 .
40 40 40 40
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
X1.1
X1.2
X1.3
X1
X1.1 X1.2 X1.3 X1
Correlation is significant at the 0.01 **. level (2-tailed).
Correlations
Correlations
1 .772** .913** .945**
. .000 .000 .000
40 40 40 40
.772** 1 .864** .924**
.000 . .000 .000
40 40 40 40
.913** .864** 1 .976**
.000 .000 . .000
40 40 40 40
.945** .924** .976** 1
.000 .000 .000 .
40 40 40 40
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
X2.1
X2.2
X2.3
X2
X2.1 X2.2 X2.3 X2
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Correlations
Correlations
1 .903** .880** .954**
. .000 .000 .000
40 40 40 40
.903** 1 .970** .985**
.000 . .000 .000
40 40 40 40
.880** .970** 1 .978**
.000 .000 . .000
40 40 40 40
.954** .985** .978** 1
.000 .000 .000 .
40 40 40 40
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
X3.1
X3.2
X3.3
X3
X3.1 X3.2 X3.3 X3
Correlation is significant at the 0.01 **. level (2-tailed).
Correlations
Correlations
1 .966** .965** .992**
. .000 .000 .000
40 40 40 40
.966** 1 .930** .981**
.000 . .000 .000
40 40 40 40
.965** .930** 1 .980**
.000 .000 . .000
40 40 40 40
.992** .981** .980** 1
.000 .000 .000 .
40 40 40 40
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
X4.1
X4.2
X4.3
X4
X4.1 X4.2 X4.3 X4
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Correlations
Correlations
1 .836** .812** .923**
. .000 .000 .000
40 40 40 40
.836** 1 .957** .975**
.000 . .000 .000
40 40 40 40
.812** .957** 1 .968**
.000 .000 . .000
40 40 40 40
.923** .975** .968** 1
.000 .000 .000 .
40 40 40 40
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Y1.1
Y1.2
Y1.3
Y
Y1.1 Y1.2 Y1.3 Y
Correlation is significant at the 0.01 **. level (2-tailed).
Reliability
****** Method 1 (space saver) will be used for this analysis ******
_
R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S - S C A L E (A L P H
A)
1. X1.1
2. X1.2
3. X1.3
Mean Std Dev Cases
1. X1.1 3.7750 .9195 40.0
2. X1.2 3.7500 .8697 40.0
3. X1.3 3.9250 .9443 40.0
N of
Statistics for Mean Variance Std Dev Variables
SCALE 11.4500 6.6128 2.5715 3
Item-total Statistics
Scale Scale Corrected
Mean Variance Item- Alpha
if Item if Item Total if Item
Deleted Deleted Correlation Deleted
X1.1 7.6750 3.0455 .8481 .9177
X1.2 7.7000 3.2410 .8352 .9280
X1.3 7.5250 2.8199 .9148 .8638
Reliability Coefficients
N of Cases = 40.0 N of Items = 3
Alpha = .9344
Reliability
****** Method 1 (space saver) will be used for this analysis ******
_
R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S - S C A L E (A L P H
A)
1. X2.1
2. X2.2
3. X2.3
Mean Std Dev Cases
1. X2.1 3.8000 .9392 40.0
2. X2.2 3.7750 .8912 40.0
3. X2.3 3.8500 .9213 40.0
N of
Statistics for Mean Variance Std Dev Variables
SCALE 11.4250 6.8147 2.6105 3
Item-total Statistics
Scale Scale Corrected
Mean Variance Item- Alpha
if Item if Item Total if Item
Deleted Deleted Correlation Deleted
X2.1 7.6250 3.0609 .8739 .9265
X2.2 7.6500 3.3103 .8357 .9543
X2.3 7.5750 2.9686 .9442 .8707
Reliability Coefficients
N of Cases = 40.0 N of Items = 3
Alpha = .9442
Reliability
****** Method 1 (space saver) will be used for this analysis ******
_
R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S - S C A L E (A L P H
A)
1. X3.1
2. X3.2
3. X3.3
Mean Std Dev Cases
1. X3.1 3.7750 .8912 40.0
2. X3.2 3.8250 .8738 40.0
3. X3.3 3.8750 .9111 40.0
N of
Statistics for Mean Variance Std Dev Variables
SCALE 11.4750 6.7686 2.6017 3
Item-total Statistics
Scale Scale Corrected
Mean Variance Item- Alpha
if Item if Item Total if Item
Deleted Deleted Correlation Deleted
X3.1 7.7000 3.1385 .8981 .9845
X3.2 7.6500 3.0538 .9664 .9362
X3.3 7.6000 2.9641 .9481 .9490
Reliability Coefficients
N of Cases = 40.0 N of Items = 3
Alpha = .9708
Reliability
****** Method 1 (space saver) will be used for this analysis ******
_
R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S - S C A L E (A L P H
A)
1. X4.1
2. X4.2
3. X4.3
Mean Std Dev Cases
1. X4.1 3.8000 .8533 40.0
2. X4.2 3.7500 .8397 40.0
3. X4.3 3.8000 .8533 40.0
N of
Statistics for Mean Variance Std Dev Variables
SCALE 11.3500 6.2846 2.5069 3
Item-total Statistics
Scale Scale Corrected
Mean Variance Item- Alpha
if Item if Item Total if Item
Deleted Deleted Correlation Deleted
X4.1 7.5500 2.7667 .9827 .9639
X4.2 7.6000 2.8615 .9567 .9821
X4.3 7.5500 2.8179 .9558 .9827
Reliability Coefficients
N of Cases = 40.0 N of Items = 3
Alpha = .9841
Reliability
****** Method 1 (space saver) will be used for this analysis ******
_
R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S - S C A L E (A L P H
A)
1. Y1.1
2. Y1.2
3. Y1.3
Mean Std Dev Cases
1. Y1.1 3.7500 .8697 40.0
2. Y1.2 3.8500 .8638 40.0
3. Y1.3 3.9250 .9167 40.0
N of
Statistics for Mean Variance Std Dev Variables
SCALE 11.5250 6.4096 2.5317 3
Item-total Statistics
Scale Scale Corrected
Mean Variance Item- Alpha
if Item if Item Total if Item
Deleted Deleted Correlation Deleted
Y1.1 7.7750 3.1019 .8328 .9771
Y1.2 7.6750 2.8917 .9435 .8956
Y1.3 7.6000 2.7590 .9228 .9108
Reliability Coefficients
N of Cases = 40.0 N of Items = 3
Alpha = .9517
Regression
Descriptive Statistics
11.5250 2.53172 40
11.4500 2.57154 40
11.4250 2.61051 40
11.4750 2.60165 40
11.3500 2.50691 40
Y
X1
X2
X3
X4
Mean Std. Deviation N
Correlations
1.000 .975 .955 .973 .980
.975 1.000 .979 .952 .957
.955 .979 1.000 .936 .921
.973 .952 .936 1.000 .953
.980 .957 .921 .953 1.000
. .000 .000 .000 .000
.000 . .000 .000 .000
.000 .000 . .000 .000
.000 .000 .000 . .000
.000 .000 .000 .000 .
40 40 40 40 40
40 40 40 40 40
40 40 40 40 40
40 40 40 40 40
40 40 40 40 40
Y
X1
X2
X3
X4
Y
X1
X2
X3
X4
Y
X1
X2
X3
X4
Pearson Correlation
Sig. (1-tailed)
N
Y X1 X2 X3 X4
Variables Entered/Removed b
X4, X2, X3,
X1
a . Enter
Model
1
Variables
Entered
Variables
Removed Method
All requested a. variables entered.
b. Dependent Variable: Y
Model Summary
.992a .984 .983 .33418
Model
1
R R Square
Adjusted
R Square
Std. Error of
the Estimate
a. Predictors: (Constant), X4, X2, X3, X1
ANOVAb
246.066 4 61.517 550.850 .000a
3.909 35 .112
249.975 39
Regression
Residual
Total
Model
1
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Predictors: (Constant), a. X4, X2, X3, X1
b. Dependent Variable: Y
Coefficientsa
.102 .250 .408 .686
.117 .144 .119 .810 .424
.155 .108 .160 1.441 .159
.266 .078 .273 3.400 .002
.464 .089 .459 5.201 .000
(Constant)
X1
X2
X3
X4
Model
1
B Std. Error
Unstandardized
Coefficients
Beta
Standardized
Coefficients
t Sig.
a. Dependent Variable: Y

Ditulis dalam Tak Berkategori. Tag: . Leave a Comment »

Did i marry the rght person?

Dalam sebuah seminar rumah tangga, seseorang audience tiba-tiba
melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah, “bagaimana saya tahu kalo saya
menikah dengan orang yang tepat?”

Saya melihat ada seorang lelaki bertubuh besar duduk di sebelahnya, jadi
saya menjawab “Ya.. tergantung. Apakah pria disebelah anda itu suami
anda?”

Dengan sangat serius dia balik bertanya “Bagaimana anda tahu?!”

“Biarkan saya jawab pertanyaan yang sangat membebani ini.”

Inilah jawabanya!
SETIAP ikatan memiliki siklus.
Pada saat-saat awal sebuah hubungan, anda merasakan jatuh cinta dengan
pasangan anda.

Telpon darinya selalu ditunggu-tunggu, begitu merindukan belaian
sayangnya, dan begitu menyukai perubahan sikap-sikapnya yang bersemangat,
begitu menyenangkan.

Jatuh cinta kepada pasangan bukanlah hal yang sulit.
Jatuh cinta merupakan hal yang sangat alami dan pengalaman yang begitu
spontan. Ngga perlu berbuat apapun. Makanya dikatakan “jatuh” cinta!

Orang yang sedang kasmaran kadang mengatakan “aku mabuk cinta”
Bayangkan eksprisi tersebut!
Seakan-akan anda sedang berdiri tanpa melakukan apapun lalu tiba-tiba
sesuatu datang dan terjadi begitu saja pada anda.

Jatuh cinta itu mudah.
Sesuatu yang pasif dan spontan.
Tapi?
Setelah beberapa tahun perkawinan, gempita cinta itu pun akan pudar..
perubahan ini merupakan siklus alamiah dan terjadi pada SEMUA ikatan.

Perlahan tapi pasti.. telpon darinya menjadi hal yang merepotkan,
belaiannya ngga selalu diharapkan dan sikap-sikapnya yang besemangat
bukannya jadi hal yang manis, tapi malah nambahin penat yang ada..

Gejala-gejala pada tahapan ini bervariasi pada masing-masing individu,
namun bila anda memikirkan tentang rumah tangga anda, anda akan mendapati
perbedaaan yang dramatis antara tahap awal ikatan, pada saat anda jatuh
cinta, dengan kepenatan-kepenatan bahkan kemarahan pada tahapan-tahapan
selanjutnya.

Dan pada situasi inilah pertanyaan “Did I marry the right person?” mulai
muncul, baik dari anda atau dari pasangan anda, atau dari keduanya..
Nah Lho!

Dan ketika anda maupun pasangan anda mencoba merefleksikan eforia cinta
yang pernah terjadi.. anda mungkin mulai berhasrat menyelami eforia-eforia
cinta itu dengan orang lain.

Dan ketika pernikahan itu akhirnya kandas?
Masing-masing sibuk menyalahkan pasangannya atas ketidakbahagiaan itu dan
mencari pelampiasan diluar.
Berbagai macam cara, bentuk dan ukuran untuk pelampiasan ini.
Mengingkari kesetiaan merupakan hal yang paling jelas.

Sebagian orang memilih untuk menyibukan diri dengan pekerjaannya, hobinya,
pertemanannya, nonton TV sampe TVnya bosen ditonton, ataupun hal-hal yang
menyolok lainnya.

Tapi tau ngga?!
Bahwa jawaban atas dilema ini ngga ada diluar, justru jawaban ini hanya
ada di dalam pernikahan itu sendiri.

Selingkuh?? Ya mungkin itu jawabannya
Saya ngga mengatakan kalo anda ngga boleh ataupun ngga bisa selingkuh,
Anda bisa!

Bisa saja ataupun boleh saja anda selingkuh, dan pada saat itu anda akan
merasa lebih baik.
Tapi itu bersifat temporer, dan setelah beberapa tahun anda akan mengalami
kondisi yang sama (seperti sebelumnya pada perkawinan anda).
Perselingkuhan yang dilakukan sama dengan proses berpacaran yang pernah
anda lakukan dengan pasangan anda, penuh gairah.
Tetapi, seandainya proses itu dilanjutkan, maka anda akan mendapati
keadaan yang sama dengan pernikahan anda sekarang.
Itu adalah siklus…

Karena.. (pahamilah dengan seksama hal ini)
KUNCI SUKSES PERNIKAHAN BUKANLAH MENEMUKAN ORANG YANG TEPAT, NAMUN
KUNCINYA ADALAH BAGAIMANA BELAJAR MENCINTAI ORANG YANG ANDA TEMUKAN DAN
TERUS MENERUS..!

Cinta bukanlah hal yang PASIF ataupun pengalaman yang spontan
Cinta NGGA AKAN PERNAH begitu saja terjadi!
Kita ngga akan bisa MENEMUKAN cinta yang selamanya
Kita harus MENGUSAHAKANNYA dari hari ke hari.

Benar juga ungkapan “diperbudak cinta”
Karena cinta itu BUTUH waktu, usaha, dan energi.
Dan yang paling penting, cinta itu butuh sikap BIJAK
Kita harus tahu benar APA YANG HARUS DILAKUKAN agar rumah tangga
berjalan dengan baik .

Jangan membuat kesalahan untuk hal yang satu ini.
Cinta bukanlah MISTERI

Ada beberapa hal spesifik yang bisa dilakukan (dengan ataupun tanpa
pasangan anda) agar rumah tangga berjalan lancar.
Sama halnya dengan hukum alam pada ilmu fisika (seperti gaya Grafitasi),
dalam suatu ikatan rumah tangga juga ada hukumnya.
Sama halnya dengan diet yang tepat dan olahraga yang benar dapat membuat
tubuh kita lebih kuat, beberapa kebiasaan dalam hubungan rumah tangga juga
DAPAT membuat rumah tangga itu lebih kuat.
Ini merupakan reaksi sebab akibat.

Jika kita tahu dan mau menerapkan hukum-hukum tersebut, tentulah kita bisa
“MEMBUAT” cinta bukan “JATUH”.

Karena cinta dalam pernikahan sesungguhnya merupakan sebuah DECISION, dan
bukan cuma PERASAAN..!

jika ia sebuah cinta…..
ia tidak mendengar…
namun senantiasa bergetar….

jika ia sebuah cinta…..
ia tidak buta..
namun senantiasa melihat dan merasa..

jika ia sebuah cinta…..
ia tidak menyiksa..
namun senantiasa menguji..

jika ia sebuah cinta…..
ia tidak memaksa..
namun senantiasa berusaha..

jika ia sebuah cinta…..
ia tidak cantik..
namun senantiasa menarik..

jika ia sebuah cinta…..
ia tidak datang dengan kata-kata..
namun senantiasa menghampiri dengan hati..

jika ia sebuah cinta…..
ia tidak terucap dengan kata..
namun senantiasa hadir dengan sinar mata..

jika ia sebuah cinta…..
ia tidak hanya berjanji..
namun senantiasa mencoba memenangi..

jika ia sebuah cinta…..
ia mungkin tidak suci..
namun senantiasa tulus…

jika ia sebuah cinta…..
ia tidak hadir karena permintaan..
namun hadir karena ketentuan…

jika ia sebuah cinta…..
ia tidak hadir dengan kekayaan dan kebendaan…
namun hadir karena pengorbanan dan kesetiaan..

Cintailah pasangan anda, seperti anda ingin dicintai olehnya
Setialah pada pasangan anda, seperti anda ingin mendapatkan kesetiaannya

Ditulis dalam Tak Berkategori. Tag: . Leave a Comment »

INJIL VS AL-QUR’AN

Pendapat Para Ilmuwan Non Muslim tentang
BIBEL & AL-QUR’AN

Kitab Suci adalah landasan iman seseorang. Kalau seseorang berbicara tentang Kitab Sucinya, niscaya ia akan membenarkannya. Lain halnya dengan para ilmuwan non-muslim yang berbicara dalam buku ini. Secara objektif-ilmiah mereka mengetengahkan pendapatnya tentang Bibel dan Al-Qur’an.

Kesimpulannya, silakan anda telaah sendiri dengan sikap arif dan terbuka sehingga kebenaranlah yang menjadi ikutan sedang kebatilan dan keraguan jauh terenyahkan.

Serial Kristologi Islami

Judul:
Pendapat Para Ilmuwan Non Muslim tentang: BIBEL & AL-QUR’AN

Penyusun:
Drs. H. Wakhid Rosyid (Willibrordus Romanus Lasiman)

Setting:
Drs. Heru Purnomo

Penyunting:
Drs. Purwanto

Khathath:
Parman Fatahillah

Cetakan Pertama:
Agustus 1997

Penerbit:
CV Pustaka Mantiq
Jl. Kapten Mulyadi 253 phone (0271) 53017
Solo 57118

Anggota IKAPI no. 032/JTE
Hak Terjemahan Dilindungi Undang-undang
All Rights Reserved

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, penulis dapat menemukan kebenaran di dalam mengembara mencari dan meneliti kebenaran ajaran agama dan kepercayaan.

Semula penulis beragama Katolik dengan nama baptis Willibrordus dan penguatan Romanus dengan nama asli dari orangtua Lasiman. Kemudian mendalami Al-Kitab di Kristen Baptis, mengikuti Kebatinan Pangestu (Ngesti Tunggil), dan senang di perdukunan.

Setelah semua itu penulis jalani dengan liku-¬liku perjuangan dan pengalaman, maka dalam upaya menemukan kebaikan dan kebenaran iman yang beraneka ragam itu ternyata duka, derita, sengsara, dan bahagia bercampur-aduk. Saat berusia 25 tahun penulis memilih, memasti¬kan, dan memutuskan Islam-lah agama yang benar, baik, dan diridhai Allah swt. Dipeluk oleh semua nabi dan semua wali di Tanah Jawa.

Sehingga, penulis masuk Islam pada tang¬gal 15 April 1980 di Depag Yogyakarta. Selanjut¬nya penulis menyusun buku yang berjudul “Pendapat para Ilmuwan Non Muslim terhadap Bibel dan Al-Qur’an” untuk berbagi pengalaman dalam meneliti kebenaran dan kebaikan. Hal itu terlaksana atas bimbingan dan dialog dari Drs. M. Daim dkk., Prof. Dr. Anwar Musadat, K.H. Ayib Muhammad, Pondok Pesantren Jaga Satru Cire¬bon, Staf IAIN Sunan Gunung Jati Cirebon be¬serta teman-teman HMI di Cirebon, staf IAIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta, staf DDII Jakarta dan Yogyakarta, teman-teman dari Muhtadin dan Yabumi. Tidak lupa, staf Rabithah Alam Islami serta sahabat di Pustaka Mantiq dan teman-te¬man seiman dalam Islam, khususnya Bapak K.H. Muhammad Jalal Mukhsin (Alm), guru Kristologi kami. Penulis sampaikan terima kasih atas segala kebaikan yang telah penulis terima sehingga menjadi amal jariah.

Ta’zhim Penyusun,
Drs. H. Wakhid Rosyid Lasiman
(Drs. H. Wilibrordus Romanus Lasiman)

PENDAHULUAN

Buku Serial Kristologi Islami yang penulis susun saat ini adalah “Pendapat Para Ilmuwan Nonmuslim terhadap Bibel dan AI Qur’an”.

Penulis menyajikan buku ini adalah untuk melayani permintaan para santri dan teman-teman da’i yang ingin memperoleh infomasi tentang bagaimanakah pendapat para ilmuwan non¬muslim terhadap Kitab Bibel dan Kitab Al-Qur’an.

Buku ini tersaji berdasarkan tinjauan ilmu Kristologi Islami dan beberapa penelitian dari berbagai buku yang bermutu tinggi baik bertaraf nasional maupun internasional.

Harapan penyusun, karya ini dapat dijadikan sarana berbagi pengetahuan untuk para pemba¬ca mengenai pendapat para sarjana nonmuslim berdasarkan hasil penelitian, pengakuan, serta penalaran yang menggunakan akal budi dan keju¬juran dalam meneliti Kitab Bibel dan Kitab Al-Qur’an.

Penyusun menuliskan buku sumber dan data-data seperlunya untuk membuktikan bahwa dari proses tulis-menulis Bibel, berdasarkan pe¬ngakuan jujur dan tulus dari para sarjana nonmus¬lim saja, telah terbukti bahwa Kitab Bibel tidak asli lagi isinya karena telah terjadi proses salah salin. Apalagi pendapat para sarjana muslim, pastilah akan lebih tegas lagi, walaupun di dalam Bibel masih tersisa beberapa kebenaran.

Rujukan dan data itu juga untuk membukti¬kan bahwa para sarjana nonmuslim pun berpen¬dapat bahwa Kitab Al-Qur’an adalah satu-satunya kebenaran yang tidak diragukan lagi bagi orang¬-orang yang berakal sehat. Sehingga, banyak sar¬jana nonmuslim yang kemudian masuk Islam setelah melalui proses penelitian, analisa, penga¬kuan, dan kemudian kesaksian dengan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah (bersyahadat).

Maka, dengan buku Serial Kristologi Islami ini penulis mengingatkan kepada saudara-saudari seiman, jangan tinggalkan iman Islam de¬ngan selalu berpegang pada Al-Qur’an dan As-¬Sunnah sebagai pembimbing jalan dan praktek kehidupan guna mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akherat nanti. Dan, semoga saudara kita yang berlainan agama segera mendapatkan hidayah dari Allah swt.

Kepada berbagai pihak yang telah memban¬tu, sehingga terwujudnya buku ini, kami sampai¬kan terimakasih. Semoga Allah swt menerima a¬mal ibadah kita sebagai jihad fi sabilillah.

Karena, setetes tinta bagi orang yang diberi ilmu oleh Allah serta yang membantu terwujud dan tersiarnya ilmu yang bermanfaat bagi dakwah adalah sama dengan turut serta berjihad fi sabi¬lillah.

Kepada Para pembaca penulis sampaikan terirna kasih; semoga menjadi lebih paham tentang pengakuan para sarjana nonmuslim terha¬dap kitab Bibel dan kitab suci Al-Qur’an; serta da¬pat menyampaikan kepada keluarga dan handai taulan agar berbuah menjadi amal jariah.

Akhirnya, kritik, saran, dan tegur sapa dari Pembaca senantiasa penulis tunggu demi penyempurnaan tulisan berikutnya.

Penulis

PENDAPAT TOKOH-TOKOH NONMUSLIM TERHADAP KITAB BIBEL

1. Dr. Mr. D. N. Mulder dalam bukunya “Pem¬bimbing ke dalam Perjanjian Lama”, tahun 1963, pagina 12 dan 13, berkata sebagai berikut: “Buku ini dikarang pada waktu-waktu tertentu, dan pengarang-pengarangnya memang manusia juga, yang terpengaruh oleh keadaan waktunya dan oleh suasana di seki¬tarnya dan oleh pembawaan pengarang itu sendiri. Naskah-naskah asli dari Kitab Suci itu sudah tidak ada Iagi. Yang ada pada kita hanya turunan atau salinan. Dan salinan itu bukannya salinan langsung dari naskah asli, melainkan dari salinan dan seterusnya. Se¬ring di dalam menyalin Kitab Suci itu terseliplah salah salin.”

2. Drs. M. E. Duyverman dalam bukunya “Pem¬bimbing ke dalam Perjanjian Baru”, tahun 1966, pagina 24 dan 25, berkata sebagai berikut: “Ada kalanya penyalin tersentuh pada kesa¬lahan dalam naskah asli yang dipergunakan¬nya, lalu kesalahan itu diperbaikinya, pada¬hal perbaikan itu sering mengakibatkan per¬bedaan yang lebih besar dengan yang sung¬guh asli. Dan kira-kira pada abad keempat, di Antiochia diadakan penyelidikan dan pe¬nyesuaian salinan-salinan; agaknya ter¬dorong oleh perbedaan yang sudah terlalu besar diantara salinan-salinan yang dipergu¬nakan dengan resmi dalam Gereja.”

3. Dr. B. J. Boland dalam bukunya “Het Johan¬nes Evangelie”, p. 9, berkata sebagai berikut: “Zijn ons de waarheden van het Evangelie van Jesus Christus in haar corspron-kelij¬ken onvervalschen, zul veren vorm over¬geleverd of zijn de door het intermediair van den Griek schen Geest, van de Griek sche reid, het laat stea an te nemen…dat de letter der Nieuw-Testament-ische boeken in de eerste eeuwen anzer jaar¬telling gewichtig wijzungen moet hebben ondergaan.”

Artinya: Apakah kebenaran-kebenaran dari Injil Je¬sus Kristus diserahkan kepada kita dalam bentuk murninya, asli dan tidak dipalsukan, ataukah telah dirubah melalui alam fikiran kebudayaan Gerika? Umumnya yang tera¬khirlah yang diterima oleh orang jaman kini… bahwa tulisan-tulisan Kitab Perjanjian Baru pada dua abad pertama perhitungan tahun kita, pasti telah mengalami perubahan besar.

4. Dr. A. Powel Davies dalam bukunya “The meaning of the Dead Sea Scrolls The New American Library” tahun 1961 , p. 106, berkata: “The first three, or Synoptic Gospels tell much the same story. There are discrepancies; but it is impossible to a considerable extent to reconcile them. John’s Gospel, however, tells quit a different story from the other three. If John is right, then the other three are wrong; If the Synoptic are right, the John’s gospel must surely be in error.”

Artinya: Tiga Injil pertama, yaitu Injil Synoptik, mem¬bawakan cerita yang sama. Terdapat perten¬tangan-pertentangan di dalamnya, sehingga tidaklah mungkin sedemikian jauh untuk mendamaikan ayat-ayat ini. Namun Injil Jo¬hannes, menceritakan cerita-cerita yang amat berbeda dari ketiga Injil pertama itu. Bila Injil Johannes yang betul, maka ketiga Injil yang lain itu salah; bila ketiga Injil itu betul, maka Injil Johannes pasti salah.

5. Dr. G. C. Vari Niftrik dan Dr. B. J. Boland dalam bukunya “Dogmatika Masakini”, cetak¬an ketiga; tahun 1978, p. 322, berkata seba¬gai berikut: “Kita tidak usah merasa malu bahwa terdapat pelbagai kekhilafan di dalam Al-Kitab; kekhi¬lafan tentang angka-angka, perhitungan-¬perhitungan tahun dan fakta-fakta. Dan tak perlu kita pertanggungjawabkan kekhilafan-¬kekhilafan itu berdasarkan caranya isi Al-Ki¬tab telah disampaikan kepada kita, sehingga dapat kita berkata: dalam naskah asli tentu¬lah tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi kekhilafan-kekhilafan itu barulah ke¬mudiannya terjadi di dalam turunan-turunan (salinan-salinan-pen) naskah itu.”

6. Herman Bakels (1871-1954) dalam bukunya “Nij Ketters? Ya.. Om deere Gods”, p. 119-120, lewat buku “Dialog antara Ahmadiyah dengan saksi-saksi Yehowa”, p. 83 dan 88 berkata sebagai berikut: “De andere ses Bijbels (Weda, Awesta, de boeken over Boedha, Tao-teking, Con¬fusius boeken, Kor’an) ken ik niet ge¬noeg…Van onzen Bijbel weet ik dit zeker. Ik heb hem dertig jaar lang van voren tot achteren doorploeterd. En ik zeg ronde¬ment; ik kan in Europa geen boek dat meer stikvol dingen-die-niet-waar-zijn zit dan de Bijbel.”

Artinya: Adapun enam buah kitab (Weda, Awesta, Kitab-kitab tentang Budha, Tao-teking, Kitab¬-kitab Confusius, Al-Qur’an) tidak begitu saya kenal. Akan tetapi Bijbel kita ini, pasti saya ketahui. Sudah 30 tahun lamanya saya mengincah Bijbel kita ini dari awal sampai akhir. Oleh karena itu terus terang saya katakan, bahwa di Eropa, saya belum kenal sebuah kitab yang lebih padat dengan hal-hal yang tidak benar dari pada Bijbel.

Dia juga berkata:
“Bijna alle koeken zijn er misleidend, nip¬seudepigra fisch. D.W.Z. niet geschreven door de auteurs op wier namen zestaan, maar wel later geschreven.”

Artinya: Hampir semua kitab-kitab dalam bibel itu menyesatkan, yakni memakai nama. palsu, yaitu tidak ditulis oleh pengarang-pengarang yang tercantum nama mereka di atasnya, melainkan ditulis jauh di belakang mereka.

7. Surat kabar di Ghana, yaitu Harian Times, 24 Juni 1964 yang dimuat oleh harian Mercusuar Yk. tertanggal 31-8-1968; Mr. RT. Payet, di dalam parlemen inggris tahun 1964 mengusulkan kepada Pemerintah Inggris dalam hal ini The British Home Secretary agar Injil dilarang beredar. Salah satu di antara sebabnya seperti yang ia katakan sebagai berikut: “I know of no book in history which could compare with the Bible as a source of bru¬tality and sadistic conduct.

Artinya: Tidak ada di dalam sejarah satu buku yang merupakan sumber dari perbuatan-per¬buatan yang brutal dan sadis selain Injil ini. (I. Sudibya Markus dalam buku “Dialog Islam¬-Nasrani dan Usul Pelanggaran Injil di Inggris”, terbitan Potrosari Ler. 28 Mgl.).

8. Prof. Herbert J. Muller dalam buku “The Uses of the Past, p. 168 lewat bukunya O. Hashem, “Marxiesme dan Agama”, tahun 1965, Japi Surabaya, p. 45, berkata: “Scholars regard this text ( I Johannes 5:7) as a later interpolation however, since it does not appear in the best manuscripts.”

Artinya:
Para sarjana menganggap bahwa naskah ini ( I Johannes 5:7) adalah suatu sisipan/tam-bahan kemudian, karena ayat seperti ini tidak diketemukan pada manuskrip-manuskrip ter¬baik.

9. Kata Herman Bakel dan Dr. A. Powel Davies, “Injil Matius 28:19 dan Injil Markus 16:9-19 adalah sisipan. Bacalah bukunya.” (Hashem, “Jawaban Lengkap Kepada Pendeta Dr. J. Verkuyl,” terbitan JAPI, Surabaya, tahun 1969, halaman 94).

PENDAPAT TOKOH-TOKOH NONMUSLIM TERHADAP AL-QUR’AN

1. Harry Gaylord Dorman dalam buku “Towards Understanding lslam”, New York, 1948, p.3, berkata: “Kitab Qur’an ini adalah benar-benar sabda Tuhan yang didiktekan oleh Jibril, sempurna setiap hurufnya, dan merupakan suatu muk¬jizat yang tetap aktual hingga kini, untuk mem¬buktikan kebenarannya dan kebenaran Muhammad.”

2. Prof. H. A. R. Gibb dalam buku “Mohamma¬danism”, London, 1953, p. 33, berkata seba¬gai berikut: “Nah, jika memang Qur’an itu hasil karyanya sendiri, maka orang lain dapat menandingi¬nya. Cobalah mereka mengarang sebuah ungkapan seperti itu. Kalau sampai mereka tidak sanggup dan boleh dikatakan mereka pasti tidak mampu, maka sewajarnyalah mereka menerima Qur’an sebagai bukti yang kuat tentang mukjizat.”

3. Sir William Muir dalam buku “The Life of Mo¬hamet”, London, 1907; p. VII berkata sebagai berikut: “Qur’an adalah karya dasar Agama Islam. Ke¬kuasaannya mutlak dalam segala hal, etika dan ilmu pengetahuan…”

4. DR. John William Draper dalam buku “A His¬tory of the intelectual Development in Europe”, London, 1875, jilid 1 , p. 343-344, berkata: “Qur’an mengandung sugesti-sugesti dan proses moral yang cemerlang yang sangat berlimpah-limpah; susunannya demikian fragmenter, sehingga kita tidak dapat mem¬buka satu lembaran tanpa menemukan ungkapan-ungkapan yang harus diterima olehsekalian orang. Susunan fragmenter ini, mengemukakan teks-teks, moto dan per¬aturan- peraturan yang sempurna sendirinya, sesuai bagi setiap orang untuk setiap peris¬tiwa dalam hidup.”

5. DR. J. Shiddily dalam buku “The Lord Jesus in the Qur’an”, p. 111 , berkata: “Qur’an adalah Bible kaum Muslimin dan lebih dimuliakan dari kitab suci yang manapun, lebih dari kitab Perjanjian Lama dan kitab perjanjian Baru.”

6. Laura Vaccia Vaglieri dalam buku “Apologie de I’Islamism, p. 57 berkata: “Dalam keselu¬ruhannya kita dapati dalam kitab ini, suatu ko¬leksi tentang kebijaksanaan yang dapat diperoleh oleh orang-orang yang paling cer¬das, filosof-filosof yang terbesar dan ahli-ahli politik yang paling cakap… Tetapi ada bukti lain tentang sifat Ilahi dalam Qur’an, adalah suatu kenyataan bahwa Qur’an itu tetap utuh melintasi masa-masa sejak turunnya wahyu itu hingga pada masa kini…Kitab ini dibaca berulang-ulang oleh orang yang beriman dengan tiada jemu-jemunya. Keistimewaan¬nya pula, Qur’an senantiasa dipelajari/dibaca oleh anak-anak sejak sekolah tingkat dasar hingga tingkat Profesor. “

“Sebaliknya malah karena diulang- ulang ia makin dicintai sehari demi sehari. Qur’an membangkitkan timbul¬nya perasaan penghormatan dan respek yang mendalam, pada diri orang yang mem¬baca dan mendengarkannya…. Oleh karena itu bukan dengan jalan paksaan atau dengan senjata, tidak pula dengan tekanan mu¬baligh-mubaligh yang menyebabkan penyi¬aran Isiam besar dan cepat, tetapi oleh ke¬nyataan bahwa kitab ini, yang diperkenalkan kaum Muslimin kepada orang-orang yang di¬taklukkan dengan kebebasan untuk meneri¬ma atau menolaknya adalah kitab Tuhan. Kata yang benar, mukjizat terbesar yang da¬pat diperlihatkan Muhammad kepada orang yang ragu dan kepada orang yang tetap ber¬keras kepala.”

7. Prof. A. J. Amberry, dalam buku “De Kracht van den Islam”, hlm. 38, berkata: “Qur’an ditulis dengan gaya tak menentu dan tidak teratur, yang menunjukkan bahwa penulisnya di atas segala hukum-hukum pengarang manusia.”

8. G. Margoliouth dalam buku “Introduction to the Koran” (kata pendahuluan untuk buku J. M. H. Rodwell), London, 1918, berkata: “Diakui bahwa Our’an itu mempunyai kedudukan yang penting diantara kitab-kitab Agama di dunia. Walau kitab ini merupakan yang terakhir dari kitab-kitab yang termasuk dalam kesusasteraan ini, ia tidak kalah dari yang mana pun dalam effeknya yang meng¬agumkan, yang telah ditimbulkannya ter¬hadap sejumlah besar manusia yang telah menciptakan suatu phase kemajuan ma¬nusia dan satu tipe karakter yang segar.”

9. George Sale dalam buku “Joseph Charles Mardrus-Premilinary Discourse”, berkata: “Di seluruh dunia diakui bahwa Qur’an tertulis dalam bahasa Arab dengan gaya yang paling tinggi, paling murni….diakui sebagai stan dard bahasa Arab… dan tak dapat ditiru oleh pena manusia… Oleh karena itu diakui seba gai mukjizat yang besar, lebih besar daripada membangkitkan orang mati, dan itu saja sudah cukup untuk meyakinkan dunia bahwa kitab itu berasal dari Tuhan.”

10. E. Denisen Ross dari “Introduction to the Koran-George Sale”, p. 5, berkata: “Qur’an memegang peranan yang lebih besar terhadap kaum Muslimin daripada peranan Bible dalam agama Kristen. Ia bukan saja merupakan sebuah kitab suci dari kepercayaan mereka, tetapi juga merupakan text book dari upacara agamanya dan prinsip-prinsip hukum kemasyarakatan…..Sungguh sebuah kitab seperti ini patut dibaca secara meluas di Barat, terutama di masa-masa ini, di mana ruang dan waktu hampir telah dipunahkan oleh penemuan-penemuan modern.”

11. James A. Michener dalam “Islam the Misun¬derstood Religion Readers Digest”, Mei 1955, berkata sebagai berikut: “Berita Qur’an inilah yang mengusir patung-¬patung dewa, dan memberikan ilham kepada manusia untuk merevolusikan hidup dan bangsa mereka…. Kombinasi antara persem¬bahan kepada Satu Tuhan ditambah dengan perintah prakteknya yang membuat Qur’an menjadi khas. Bangsa yang beragama di Timur yakin bahwa negara mereka hanya akan diperintah dengan baik apabila hukum-¬hukumnya sejalan dengan Qur’an.

12. W.E. Hocking dalam “Spirit of World Politics ¬New York 32″, p. 461 , berkata: “…saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa Qur’an berisi amat banyak prinsip-prinsip yang diperlukan untuk pertumbuhannya sendiri. Sesungguhnya dapat dikatakan bahwa hingga pertengahan abad ke-13, Islamlah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh dunia Barat.”

13. Napoleon Bonaparte

a. Dari “Stanislas Cuyard-Ency des Sciences Religioses”, Paris, 1880, jilid IX, p. 501 berkata sebagai berikut: ” Selama abad-abad pertengahan, sejarah Islam peradaban sepenuhnya. Berkat keuletan kaum Musliminlah maka ilmu pengetahuan dan falsafah Yunani tertolong dari kebinasaan, dan kemudian datang membangunkan dunia Barat serta membangkitkan gerakan intelektual sampai pada pembaruan Bacon. Dalam abad ke-7 dunia lama itu sedang dalam sakaratulmauit. Muharnmad memberi kepada mereka sebuah Qur’an yang rnerupakan titik tolak ke arah dunia baru.”

b. Dari buku “Bonaparte et I’Islarn oleh Cherlifs, Paris, p. 105, berkata sebagai berikut: “I hope the time is not far off when I shall be able to unite all the wise and educated men of all the countries and establish a uniform regime based on the prinsiples of the Qur’an wich alone can lead men to happiness.

Artinya:
Saya meramalkan bahwa tidak lama lagi akan dapat dipersatukan semua manusia yang berakal dan berpendidikan tinggi untuk memajukan satu kesatuan kekuasaan yang berdasarkan prinsip¬-prinsip ajaran Islam, karena hanyalah Qur’an itu satu-satunya kebenaran yang mampu memimpin manusia kepada ke¬bahagiaan.*

*) Sumber terutama dari M. Hashem, “Kekaguman Dunia terhadap Islam”, cetakan pertama, Bandung,

KESIMPULAN

Setelah kita mempelajari dengan teliti pendapat para ilmuwan nonmuslim terhadap Bibel dan Al-Qur’an tersebut di atas, maka jelaslah bahwa dalam menerima kebenaran Islam untuk berbakti kepada Tuhan Allah Yang Maha Esa memang melalui proses mempelajari serta meneliti dengan sepenuh akal budi dan kejujuran. Hanya dengan demikianlah akan sampai pada derajat pengakuan atas kebenarannya. Kesim¬pulan itu akan diperoleh, tentunya setelah diana¬lisa dengan sesungguhnya serta dibandingkan dengan kekurang- benaran atau ketidak-benaran yang lainnya. Sehingga akan lebih nampak mana yang hak dan mana yang batil, mana yang benar dan mana yang salah, serta dapat dibedakan pula mana yang bercampur-baur antara kebenaran dan kebatilan dan mana yang suci murni dari Ilahi.

Kemudian baru atas taufik dan hidayah dari Allahlah manusia dapat dan mampu mengakui di dalam hati dan pikiran, mengikrarkan di dalam lisan, serta mengamalkan di dalam kehidupan (beriman) dengan segala kekuatan.

Hal itu sebagaimana dituliskan di dalam:

a. Bibel

Matius 22:37
Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Markus 12:30
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan se¬genap hatimu dan dengan segenap ji¬wamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”

Lukas 10:27
Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allah¬mu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap ke¬kuatanmu dan dengan segenap akal budi¬mu, dan kasihilah sesamamu manusia se¬perti dirimu sendiri.”

b. Al-Qur’an

Qur’an 12:111
La qad kaana fii qashashihim ‘ibratulli ulil albaabi maa kaana hadiitsay yuftaraa walaakin tashdiiqal ladzii baina yadaihi wa tatshiila kulli syaiiw wa hu¬daw wa rahmatal li qaumiy yu’minuun.

Artinya:
Sungguh pada kisah-kisah mereka terda¬pat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang diada-adakan, tetapi mem-benarkan kitab terdahulu dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Qur’an 39: 18
Alladziina yastami’uunal qaula fa yat¬tabi’uuna ahsanahuu ulaaikal ladziina hadaahumullaahu wa ulaaika hum ulul albaab.

Artinya: Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik dian-taranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itu¬lah orang-orang yang berakal.

Maka, di dunia ini banyak orang yang ber¬akal cerdas kemudian berbondong-bondong masuk Islam dan sebaliknya orang-orang yang kurang akal meninggalkan Islam.

Oleh karena itu, mari kita tingkatkan belajar ilmu dan mengajarkan ilmu yang kita miliki, khu¬susnya Ilmu Kristoiogi Islami, untuk mengantisi¬pasi missilzending Kristenisasi pada diri, ke¬luarga, dan masyarakat kita.

SEKILAS INFORMASI
Assalamu’alaikum wr. wb.

Bagi saudara-saudara seiman yang ingin tu¬rut serta beramal jariah dengan mendapatkan buku-buku Serial Kristologi Islami ini dan buku-¬buku lainnya, baik untuk diri sendiri, keluarga, dan handai taulan, dapat memesan kepada penyu¬sun, Drs. H.W.R. Lasiman, SLTP 15, JI. Tegal Lempuyangan No. 81 Telp. (0274) 512912 Yogyakarta. Silakan kontak langsung melalui tele¬pon tiap hari Selasa sampai dengan Jum’at jam 10.00 sampai dengan 10.15 WIB.

Uang pembelian/amal/sponsor sebagai dukungan untuk pencetakan ulang dan penyusunan Serial Kristologi Islami berikutnya dapat dimasukkan ke dalam Rekening Bank Niaga Yog¬yakarta atas nama: Drs. W.R. Lasiman, No. Re¬kening: 181809471, atau lewat Pos Wesel.

Semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik atas pembelian, amal, atau sponsor dari saudara-saudari seiman. Sehingga, cetak ulang dan penyusunan buku-buku Serial Kristologi Is¬lami berikutnya dapat diwujudkan sebagai media dakwah dan jihad di jalan Allah melalui tulisan dan amaliah kita.

Wassalamu’alaikum wr. wb.
Penyusun,

Drs. H. Wakhid Rosyid Lasiman
(Drs. Wilibrordus Romanus Lasiman)

Muslim Prayer Time

Ditulis dalam Tak Berkategori. Leave a Comment »

Diksi dalam komunikasi_By N45IR

Pengertian Diksi
Diksi ialah pilihan kata.
Artinya, kita memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu
Dalam berkomunikasi pilihan kata merupakan hal yang penting.
Untuk menentukan tepat-tidaknya suatu kata, kita dapat memanfaatkan kamus.
Kamus akan menuntun kita dalam mengguna-kan kata sesuai dengan keperluannya.
Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna:
makna dalam alam wajar
Makna yang sesuai dengan apa adanya
Makna yang terkandung dl sebuah kata secara objektif
Makna konseptual
Makna bersifat umum
Misalnya: makan ‘memasukkan sesuatu (padat) ke dl mulut’

Makna konotatif ialah:
Makna yg timbul sbg akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, atau kriteria tambahan pada makna konseptual
Makna asosiatif
Makna yang terkait dng sikon
Makna tambahan
Makna majas/kias
Makna sbg tautan pikiran yg menimbulkan nilai rasa ketika seseorang behadapan dng sebuah kata
Makna bersifat khusus
Misalnya: makan bisa berarti ‘korupsi’ pada Ia diadili krn makan beton dalam proyek itu.

Contoh Makna Denotatif-Konotatif
1a. Amelia adalah wanita cantik. (denotatif)
1b. Amelia adalah wanita manis. (konotatif)
2a. Perangainya buruk. (denotatif)
2b. Perangainya bajingan. (konotatif)
3a. Ia membeli kursi makan satu set. (denotatif)
3b. Ia mendapat kursi empuk di kantornya yang baru. (konotatif)
Makna Umum dan Makna Khusus
Makna umum ialah:
Makna dari kata yang menjadi superordinat dari kata tertentu
Makna kata yang memiliki acuan yang luas
Makna yang luas dan mencakupi
Makna yang generik

Makna Khusus ialah:
Makna dari kata yang menjadi subordinat dari kata tertentu
Makna kata yang memiliki acuan yang sempit
Makna yang terbatas dan tidak mencakupi
Makna yang spesifik
Makna istilahi

Contoh Makna Umum dan Khusus
1a. Ia memetik sekuntum bunga di taman. (umum)
1b. Ia memetik sekuntum mawar di taman. (khusus)
2b. Orang tuanya membangun rumah di kompleks itu. (umum)
2b. Orang tuanya membangun vila di Puncak. (khusus)

Kata Konkret dan Abstrak
Kata konkret ialah
kata yang acuannya mudah dicerap pancaindra
kata yang digunakan untuk mengungkapkan hal yang nyata
Kata yang gagasannya gamblang

Kata abstrak ialah
kata yang acuan sulit dicerap pancaindra
Kata yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan yang rumit
Kata yang mampu membedakan secara halus gagasan yang bersifat teknis dan khusus

Contoh Kata Konkret dan Abstrak
1a. Di Jakarta muncul bangunan pencakar langit (kongkret)
1b. Pembangunan gedung pada masa krisis ekonomi banyak terhenti. (abstrak)
2a. Manusia memiliki jasmani dan rohani.
2b. Setiap orang cinta perdamaian. (abstrak)

Sinonim
Sinonim ialah persamaan makna dua kata atau lebih yang bentuknya berbeda.
Kesinoniman tida ada yang mutlak, hanya kesamaan dan kmiripan.
Sinonim diperlukan dalam berkomunikasi agar kalimat tidak membosankan.
Penggunaan kata bersinonim akan menghidupkan bahasa seseorang sehingga terwujud kejelasan komunikasi.

Pemakai bahasa dapat memilih bentuk kata yang tepat sesuai dengan keperluan dan situasi-kondisi.
Makin mampu seseorang menggunakan kata bersinonim makin jelas komunikasi yang dberlangsung.
Perlu diingat bahwa kesesuaian ragam bahasa yang dipilih dengan kata yang digunakan sangat menentukan kelancaran komunikasi.
Pilihan kata bahasa lisan berbeda dengan pilihan kata bahasa tulis.
Contoh Pilihan Kata
1a. Kami lagi bikin PR. (Lisan)
1b. Kami sedang mengerjakan tugas/pekerjaan rumah. (Tulis/baku)
2a. Orang tuanya sudah lama mati. (Kasar)
2b. Orang tuanya sudah lama meninggal dunia. (Halus)

Pembentukan Kata
Kata dapat dibentuk dengan pemanfaatan kosakata dari bahasa Indonesia dan bahasa asing/daerah.
Pembentukan dari BI dilakukan dengan memanfaatkan kosakata BI yang sudah ada.
Pembentukan dari luar BI dilakukan dengan menyerap kosakata asing/daerah ke dl BI.

Contoh Pembentukan dari BI
tata daya serba
tata laksana daya serap serba putih
tata bahasa daya beli serba guna
tata buku daya saing serba hirtam
tata rias dayatarik serba tahu
hari tutup lepas
hari jadi tutup buku lepas kendali
hari libur tutup usia lepas landas
hari raya tutup tahun lepas pantai

Penyerapan/Pemungutan Kata
communication  komunikasi
mass media  media massa
effective  efektif
effectivity  efektivitas
computer  komputer
khusus  khusus
i’lan  iklan
musyarakah  masyarakat

Bentuk Serapan
Tidak ada perubahan
bank  bank
modern  modern
film  film
data  data
golf  golf
radio  radio

2. Penyesuaian
active  aktif
creative  kreatif
coordination  koordinasi
transport  transpor
standard  standar
university  universitas
success  sukses

3. Penerjemahan
landing  mendarat
take off  lepas landas
sophisticated  canggih
up to date  mutakhir
announcer  pewara
briefing  taklimat
hearing  dengar pendapat
busway  jalur bus khusus

4. Keuniversalannya
de facto
status quo
ad hoc.
et al.
cum laude

Pengimbuhan
meng- + (a, e, i, o, u, g, h, k, kh)  meng-
mengapung
mengolah
menghapus
mengembang
mengkhususkan

meng- + (l, m, n, ny, ng, r, y, w)  me-
melatih
menamai
merampas
mewabah
meng- + (b, f, v, p)  mem-
membalas
memfitnah
memvonis
memutar

Bentuk Ulang
makan-makan
duduk-duduk
mukul-memukul
hormat-menghormati
menjadi-jadi
melompat-lompat
berdekat-dekatan
cerai-berai
saling menghormati = hormat-menghormati
saling menolong = tolong-menolong
saling mencintai = cinta-mencintai

Bentuk Majemuk
mabuk laut jumpa pers
tatap muka kurang makan
salah hitung berani mati
hancur lebur pulang pergi
ikut campur jual beli
hilang kekuasaan hilang ingatan
hilang pikiran berkembang biak
bertolak pinggang bertutur sapa
melipatgandakan menganaktirikan
menggarisbawahi

Akronim
tilang bukti pelanggaran
pemilu pemilihan umum
perum perusahaan umum
Depsos Departemen Sosial
pilkada pemilihan kepala daerah
wapres wakil presiden
wagub wakil gubernur

Analogi
petatar (yg ditatar) selain penatar
pesuluh (yg disuluh) selain penyuluh
beranalogi ke bentuk pesuruh
Petinju beranalogi ke petani/ peternak

Ditulis dalam EYD. Leave a Comment »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.